Posted by: syiar.net | March 27, 2008

Apakah Kita Layak Mengkafirkan Kedua Orang-tua Rasulullah SAAW

Air yang jernih tidak mungkin berasal dari mata air yang kotor, tidakkah anda setuju?. Bagi umat Islam jiwa dan pribadi Rasulullah SAWW adalah jiwa dan pribadi yang agung, yang bersih, suci dan dicintai. Hal itu bukan saja diakui oleh umat Islam, akan tetapi oleh penganut agama-agama lain. Ayat-ayat suci Al-Quran dan catatan sejarah juga mendukung pendapat ini. Pribadi yang agung ini tentu tidak mungkin terbentuk begitu saja, ia pasti melalui suatu proses bimbingan sejak kecil, dan berasal dari benih-benih yang suci. Sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini muncul berbagai teori dan opini yang menyatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAWW adalah kafir. Salah satunya adalah yang tertera pada sebuah buku bertajuk “Kafirkah kedua orang tua Rasulullah?” yang diterbitkan oleh Pustaka As-Sunnah dan ditulis oleh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qaari. Buku ini juga sempat diulas oleh salah satu koran termuka yaitu Republika terbitan jumat 15 April 2005 dengan sebuah artikel berjudul “Meluruskan posisi orang tua Rasulullah”.

Mengapa muncul pendapat demikian? Apa dasar argumen tersebut? Dan bagaimana kita menyikapinya? Itulah beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab disini.

Dalam Artikel yang dimuat oleh koran Republika jumat 15 April 2005 dikatakan:

“Kedua orang tua Rasulullah, yakni Abdullah dan Siti Aminah, wafat sebelum Nabi membawa risalah Islam. Dengan kata lain, keduanya meninggal dalam keadaan kafir. Namun, banyak umat Islam yang merasa tidak sampai hati mengatakan bahwa kedua orangtua Rasulullah wafat dalam keadaan kafir dan karena itu kelak masuk neraka.”

Bagaimanakah kita, sebagai umat Islam, umat Muhammad menyikapi argumen tersebut? Jawabannya mungkin mudah, yaitu dengan menerima atau menolaknya. Akan tetapi apa dasar yang akan kita gunakan untuk menerima atau menolak argumen tersebut? Alangkah baiknya jika kita disini menggunakan ayat-ayat suci Al-Quran sebagai pedoman juga solusi. ALLAH SWT berfirman dalam surat Al Israa (17) ayat 15:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

” ..Dan kami tidak akan mengazhab sebelum kami mengutus seorang Rasul”

Bukankah kedua orang tua Rasulullah sudah meninggal tatkala beliau berusia 8 tahun, sedangkan pengutusan Muhammad sebagai seorang Rasul baru dilakukan ketika beliau berumur 40 tahun? Lalu bagaimana mungkin kedua orangtuanya Abdullah dan Aminah diazhab di neraka? Dimana keadilan ALLAH seperti yang tertera pada surat Al Israa ayat 15 tersebut?

Pada surat Asy Syu’araa (QS26:217-219) ALLAH SWT berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“Dan bertakwallah kepada ALLAH yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) dan melihat pula perpindahan badanmu dari (sulbi-sulbi) orang-orang yang bersujud”

Disini kita dapat melihat bahwa ALLAH SWT menjaga perpindahan badan (benih) Rasulullah dari satu sulbi ke sulbi yang lain. Dan sulbi-sulbi tempat persinggahan itu tidak lain adalah milik orang-orang yang bersujud (beriman). Masihkah kita menerima bahwa kedua orangtua Rasulullah SAWW kafir?

Dalam paragraf lain dari artikel yang dimuat oleh koran Republika dikemukakan:

“Buku ini (kafirkah kedua orang tua Rasul?) memuat pro-kontra para ulama mengenai posisi kedua orangtua Rasulullah, antara lain imam Suyuthi.”

Dalam buku ini dijelaskan Rasulullah SAW tanpa ragu menyatakan bahwa kedua orangtuanya meninggal dalam keadaan kafir. Ketika berziarah ke makam ibunya, rasulullah berkata, “aku memohon izin kepada Rabbb-ku agar aku dapat meminta ampun untuk ibuku tapi tidak diizinkan, lalu aku minta izin untuk menziarahi kuburnya aku diizinkan”

Aneh sekali jika kita menerima begitu saja pendapat ini. Bukankah Rasulullah SAWW yang mengajarkan kepada kita untuk selalu mendoakan kedua orangtua kita dengan doa ‚” Robbifirli waliwalidaya warhamhuma kama Rabbayana shohiro”, doa yang senantiasa dibacakan oleh suara-suara cilik untuk kedua orangtua tercinta ketika selesai dikumandangkan adzan maghrib. Jika betul demikian, bukankah Rasulullah orang pertama yang melakukan hal itu? Jika betul demikian, untuk apa beliau mendoakan kedua orangtuanya Abdullah dan Aminah jika sudah jelas bahwa posisi mereka di neraka? Mungkinkah Rasulullah melakukan hal yang sia-sia? Jelas tidak. Dalam hadis lain yang dikemukakan oleh imam Suyuthi (rujukan yang sama) dalam kitabnya yang terkemuka yaitu Durul Manthur diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAWW bersabda:

“Aku dipindahkan dari sulbi-sulbi yang suci ke dalam rahim-rahim yang terjaga”

Selain itu dalam banyak riwayat juga diceritakan bahwa Bani Hasyim (keluarga besar Abdullah ayah Rasulullah) adalah penjaga ka’bah dan pengikut ajaran nabi Ibrahim A.S. Apakah layak bagi kita untuk mengkafirkan kedua orang tua Rasulullah SAWW setelah mengetahui pernyataan-pernyataan ini?

Air yang jernih tidak mungkin berasal dari mata air yang kotor. Kalimat itulah yang kira-kira dapat menggambarkan diri Rasulullah dan kedua orangtuanya. Alangkah baiknya jika kita mempelajari secara lebih mendalam tetang keluarga nabi Muhammad SAWW dan mengaca diri akan kedudukan kita di hadapan ALLAH SWT dan di hadapan Rasulnya yang tercinta. Sehingga kita tidak mudah untuk mengeluarkan opini-opini yang tidak pantas dan terjebak dalam badai kesalahpahaman yang terus menguak seperti ini. Semoga bermanfaat.

Apakah Kita Layak Mengkafirkan Kedua Orang Tua Rasulullah SAAW?’


Categories