Posted by: syiar.net | April 2, 2008

Arkanul Imam

“Imam” berarti seorang pemimpin, seorang yang menjadi contoh dan pemberi petunjuk bagi orang-orang yang mengikutinya. Allah Rabbul Alamin telah menjadikan seorang “imam” bagi setiap umat di setiap zaman. 

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلً

“(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan imamnya; dan barang siapa diberikan catatan amalnya di tangan kanannya mereka akan membaca catatannya (dengan baik), dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun.” (QS17:71)

Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa imam terbesar bagi umat manusia adalah Nabi besar Muhammad SAAW, sang pembawa cahaya dan penyempurna ajaran Allah. Akan tetapi bagaimana dengan imam-imam setelah Nabi Muhammad (saaw) ? Sebagian besar muslimin berpendapat bahwa Imam bisa diangkat berdasarkan musyawarah. Jadi setelah Rasul meninggal siapapun yang akan naik, asal didasarkan pada musyawarah, adalah Imam yang sah. Tapi, mengingat peranan imam yang sangat besar bagi umat manusia, timbul pertanyaan, apakah musyawarah adalah landasan yang tepat untuk menentukan seorang “imam”? Apakah pendapat sekumpulan manusia (yang bahkan tidak diuji pengetahuan agama dan akhlaknya) sudah cukup untuk menentukan seorang “imam”?

Allah di dalam kitab yang mulia, Al Qur’an, telah memberikan petunjuk kepada manusia mengenai keberadaan dan pentingnya seorang “imam”. Tentunya hal ini diikuti dengan petunjuk dan penjelasan mengenai siapakah yang pantas menjadi seorang imam, karenanya marilah kita buka lembaran-lembaran kalimat Allah untuk memperoleh jawaban mengenai syarat-syarat seorang “imam”.

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

“Maka kepada ajaran manakah selain Al Qur’an ini mereka akan beriman?” (QS 77:50)

1.     Imam adalah Fi’lullah bukan Fi’lun nas (Imam adalah ketentuan Allah, bukan ketentuan manusia)

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,“Sesungguhnya aku yang menjadikan (ja’ilun) seorang kalifah di muka bumi.” Mereka berkata,”Mengapa engkau hendak menjadikan kalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” Tuhan berfirman,”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”” (QS 2:30)

Dalam penciptaan Adam a.s, Allah swt berdialog dengan malaikat. Kata kerja yang digunakan dalam ayat ini adalah “menjadikan” (ja’ilun) seorang khalifah di muka bumi”. Penggunaan kata ja’ilun menunjukkan kehendak Allah tanpa campur tangan pihak lain. Jadi khalifah adalah ketentuan Allah SWT

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa ujian lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman,”Sesungguhnya Aku yang menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS 2:124)

Berdasarkan ayat di atas, terlihat bahwa Allah SWT menunjuk nabi Ibrahim menjadi imam bagi seluruh manusia !

قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“…Ibrahim berkata,”Dan saya mohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman,”Janjiku ini tidak mengenai orang-orang yang dzalim.”” (QS 2:124)

Definisi dzalim di sini dijabarkan pada QS31:13 “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang paling besar.””

Dengan demikian siapa-siapa yang pernah menyekutukan Allah (syirik) pernah melakukan kedzaliman yang paling besar.

Sekarang kita kembali kepada sejarah dengan jujur, adakah satu sahabat di zaman Rasul SAAW yang tidak pernah menyembah patung selain Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib? Sementara Allah berjanji bahwa tidak akan ada keturunan Ibrahim a.s. yang dzalim berhak menyandang gelar Imam. Artinya tidak akan ada orang yang pernah mengalami kedzaliman dapat menjadi seorang imam !

Sesuai dengan janji Allah SWT tersebut, maka  pilihan mengenai siapa yang akan diangkat menjadi imam berada di tangan Allah, seperti yang tercantum dalam ayat berikut:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

QS28:68 “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan“

Jadi bagi manusia tidak ada pilihan selain yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Bagaimana dengan orang-orang yang tetap mencari pilihan lain ? Merekalah orang-orang yang tersesat!

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

QS33:36 “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan perempuan yang mu’min apabila Allah dan Rasul-Nya sudah menentukan satu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.“

Jadi, apabila Allah dalam kitab-Nya mengatakan bahwa imam adalah hak prerogatif Allah, Tuhan semesta alam, maka campur tangan manusia harus kita tolak dalam penentuan “imam”.  Jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan Imam bagi umat manusia tidaklah ada hak bagi manusia untuk memilih pemimpin bagi dirinya sendiri di luar ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

2.     Imam wajib ma’shum

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

QS21:73 “Dan kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah  “

Jadi, salah satu tugas imam adalah “memberi petunjuk”. Hal ini menunjukkan bahwa imam pastilah telah diberi petunjuk oleh Allah agar tidak mungkin mereka melakukan kesalahan dalam membimbing umat manusia.

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

QS28:5 “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang orang yang mewarisi bumi.“

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa para pemimpin (imam) dijadikan Allah SWT sebagai pewaris dari bumi. Karenanya, imam wajib ma’shum, kalau bila tidak, dapat menghancurkan seluruh isi bumi.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

QS24:55 “Allah telah menjanjikan bagi orang orang beriman di antaramu dan yang mengerjakan kebaikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatupun. Tetapi barang siapa kafir setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik  “

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلً

QS4:59 “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemimpin kalian. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.“

Pada ayat di atas, ketaatan kepada pemimpin disejajarkan dengan ketaatan pada Allah dan Rasul, kalimat taat di sini berarti mutlak, sehingga tidak mungkin orang yang ditaati tersebut tidak ma’shum. Apabila kita merujuk pada hadits Tsaqalain[1] (dua yang berat), Rasul saaw mengatakan beliau meninggalkan dua pusaka yaitu “kitabullah” dan “itrati ahlul bayt”. Itrah di sini dimaksud keturunan Rasul hingga hari kiamat dan dimasukkan oleh Rasul dalam ahlul bayt beliau. Rasul berkata keduanya tidak akan pernah[2] berpisah selama-lamanya, ini menunjukkan itrah ahlul bayt dan Al Qur’an akan terus bersama, maka sebagaimana kesucian Al Qur’an terjaga, kemakshuman itrah Rasulullah pun telah dijaga oleh Allah SWT.

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

QS41:42 “Dan tidak akan datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, Maha Terpuji.”

Berdasarkan ayat di atas, dapat kita simpulkan bahwa jika ada yang berpendapat bahwa imam itu tidak ma’shum berarti imam telah terpisahkan dari Qur’an, karena tidak mungkin ada kebatilan terhadap Qur’an.

3.     Imam wajib berilmu (wajibul ‘alim)

Ilmu para imam bukan didapatkan dari guru-guru, bukan dari kitab-kitab, melainkan warisan dari Rasulullah SAAW. Semua perkataan para imam berasal dari perkataan Rasulullah SAAW.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا

إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

QS72:26 – 27“Dia Mengetahui yang ghaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga di depan dan di belakangnya.”

Dalam ayat ini,  Allah mengatakan bahwa tidak ada satupun yang mengetahui hal hal yang ghaib, kecuali Ar-Rasul saaw dan Allah menggunakan kata “Illa” yang berarti pengecualian khusus bagi Rasul yang diridhoi-Nya. Dan ayat ini juga menunjukkan tidak mungkin Rasul SAAW salah, karena adanya penjagaan yang dijanjikan Allah terhadap Rasul SAAW.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

QS16:89 “…Dan Kami turunkan Kitab kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri.”

وَمَا مِنْ غَائِبَةٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

QS27:75 “Dan tidak ada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan tercatat dalam kitab yang nyata.”

Berdasarkan ayat di atas, dapat disimpullkan bahwa tidak ada yang terdapat di langit dan bumi selain telah dijelaskan dalam Al Qur’an, sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. Pertanyaannya adalah siapakah yang menjelaskan kitabulAl Qur’an? Tentunya Rasulullah SAAW.

Tapi siapakah yang menjelaskan setelah Rasulullah SAAW meninggal?

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

QS35:32 “Kemudian  Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami …”

Al Qur’an ini, yang kata Allah menjelaskan segala sesuatu, ternyata diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih. Sehingga hamba-hamba tersebut wajib ma’shum.

Imam Ar-Ridho a.s berkata kepada Ibnu Haddaf,”Wahai Ibnu Haddaf jika aku beritahukan kepadamu hari ini bahwa kamu akan mati hari ini, jam sekian, di tempat ini dalam keadaan seperti ini apakah kamu percaya?” Ibnu Haddaf berkata,”Saya tidak percaya.” Dan kemudian Ibnu Haddaf membawakan ayat 26 di atas tetapi tidak melanjutkan pada ayat 27nya. Imam kemudian melanjutkan kepada ayat 27 dan bertanya kepada Ibnu Haddaf, ”Sekarang saya bertanya kepadamu Ibnu Haddaf, Rasulullah mengetahui hal yang ghaib tidak?” Ibnu Haddaf menjawab,”Jelas.” Kemudian Imam a.s. berkata,”Kami adalah pewaris dari Rasulullah SAAW.”

Seorang murid Imam Ja’far a.s bertanya kepada Imam,”Ya Imam ada sekelompok orang berkeyakinan bahwa engkau mengetahui hal-hal yang ghaib.” Imam a.s. menjawab,”Demi Allah tidak ada sehelai rambutku yang tidak mengetahui hal ghaib. Demi Allah aku mengetahui apa yang ada di langit, aku mengetahui siapa yang akan masuk ke dalam surga siapa yang akan masuk ke dalam neraka, aku mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi hingga hari kiamat. Akan tetapi ilmu semua itu kudapatkan dari Rasulullah SAAW”

Kembali kepada hadits Tsaqalain, dikatakan tidak akan berpisah selama-lamanya antara Kitabullah dan Itrah Ahlul Bayt karena mereka keduanya adalah satu tali yang satu ujungnya di tangan Allah dan ujung lainnya di tangan manusia. Ujung yang di tangan Allah adalah Al Qur’an dan ujung yang di tangan manusia adalah Ahlul Bayt a.s. Jadi kalau Itrah Ahlul Bayt tidak alim berarti mereka berpisah dengan Al Qur’an.

Bagaimana dengan pernyataan bahwa Rasulullah dan para imam adalah orang biasa?

Imam Shadiq a.s. berkata,”Kalau posisi kami para Imam sama dengan kalian, maka apa bedanya antara kami dan kalian.”

Imam Baqir a.s ketika ditanya mengenai dalil di luar Qur’an yang menyatakan bahwa para Imam paling mulia di antara manusia menjawab,”Mereka selalu bertanya kepada kami, sementara kami tidak pernah bertanya kepada mereka. Mereka selalu membutuhkan kami, sementara kami tidak membutuhkan mereka.”

Salah seorang habib besar berkata sebelum beliau meninggal,”Kebutuhannya mereka (para sahabat dan seluruh manusia) kepadanya (Amirul Mu’minin) dan ketidakbutuhan dia kepada semuanya adalah dalil bahwa dia adalah Imam bagi semuanya.”

Bagaimanakah ilmu-ilmu tersebut diwariskan dari Rasulullah SAAW?

Diwariskan secara bathin bukan dari pendengaran biasa dengan kehendak Allah SWT tentunya.

4.     Imam wajib berkesinambungan

QS 2:124 “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa ujian lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman,”Sesungguhnya Aku yang menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata,”Dan saya mohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman,”Janjiku ini tidak mengenai orang-orang yang dzalim.””

Berdasarkan ayat di atas, terlihat bahwa Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah agar zuriat (keturunan) beliau juga diangkat menjadi Imam. Kata-kata zuriat berarti keturunan hingga hari kiamat. Bagaimana dengan kondisi sekarang? Apabila dikatakan saat ini umat Islam tidak memiliki imam, berarti doa Nabi Ibrahim a.s. tidak terwujud, berarti juga janji Allah meleset!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

QS9:119 “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang shadiqiin.”

Berdasarkan ayat di atas, kita diperintahkan untuk bersama dengan para shadiqiin. Siapakah orang-orang shadiqin di sini?

Yaitu orang-orang yang berwilayah, karena yang tidak berwilayah hanyalah muslim. Dalam ayat di atas juga, Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min agar menjadi orang yang bertakwa, hal ini berari muttaqin berada di atas muslimin.  Kemudian Allah memerintahkan untuk bersama dengan orang-orang yang shadiqin. Kenapa Allah tidak menyuruh orang-orang yang muttaqin untuk menjadi shadiqin? Dan hanya memerintahkan untuk bersama-sama saja? Hal ini menunjukkan bahwa tingkatan shadiqiin merupakan pilihan Allah, jadi tidak ada yang bisa mencapai tingkatan tersebut selain orang-orang yang dipilih oleh Allah.

Fakhrurrozi dalam tafsirnya mengatakan bahwa as-Shadiqiin wajibul ma’shum. Kenapa wajib ma’shum? Karena orang-orang muttaqiin diperintahkan mengikuti as-Shadiqiin, sementara untuk mencapai tingkatan muttaqin saja sudah sulit dicapai manusia. Fakhrurrozi juga berkata Shadiqiin wajibul istimror (berkesinambungan). Kenapa? Karena kalau tidak maka akan ada pada suatu masa dimana manusia tidak memiliki pembimbing (imam) yang berarti Allah membedakan petunjuk yang diberikannya kepada umat manusia.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

QS4:69 “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu pada nabi dan para shiddiqiin.”

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa gelar shiddiqiin lebih tinggi dari gelar shadiqiin. Jadi siapakah yang mempunyai gelar shiddiq itu?


Dan dialah Muhammad yang datang membawa kebenaran dan ada orang yang membenarkannya (shiddiqiin)[3].


[1] Hadits ini termasuk dalam hadits Mutawatir

[2] Kata “tidak pernah” berpisah menggunakan kata Lan yang berarti tidak akan pernah (selama-lamanya)

[3] Di tafsir darul mantsur oleh Suyuthi beliau menafsirkan ayat tersebut dan mengatakan bahwa orang tersebut adalah Amirul Mu’minin Ali a.s.


Categories