Posted by: syiar.net | April 2, 2008

Lailatul Qadr

Salah satu keutamaan bulan Ramadhan adalah keberadaan suatu malam dimana diturunkanya kalamullah Al Qur’an yang mulia. Peristiwa ini direkam oleh Allah SWT secara khusus dalam surat Al Qadr.[1] 

Hadis Imam Baqir a.s.: ”Keutamaan seorang mu’min yang memahami kandungan surat Al Qadr dengan mu’min yang menghafal atau sekadar membacanya seperti manusia dengan binatang.”

Dari hadits di atas, terlihat bahwa imam a.s sangat menekankan pentingnya surat Al Qadr, bahkan memberikan perumpamaan yang sangat keras. Hal ini sesuai dengan ayat berikut ini :

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

QS 62:5 “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian tidak mengamalkannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Jadi perumpamaan yang disebutkan oleh Imam Baqir a.s. di atas bukanlah ciptaan manusia, melainkan langsung berasal dari Allah SWT.[2] Disebutkan orang-orang yang dikirimkan Taurat dan hanya membacanya tanpa mengamalkannya sama dengan keledai yang membawa kitab-kitab. Ayat di atas adalah perumpaman Allah SWT untuk kitab Taurat, bagaimana dengan Al Qur’an, petunjuk yang mulia bagi semesta alam?

Mengutip hadis Imam Baqir a.s yang telah disebutkan sebelumnya, seperti manusia dengan binatang !  Orang-orang yang didatangkan kitab suci Al Qur’an tetapi tidak mengetahui kandungan Al Qur’an tentulah lebih buruk dari keledai dan ini adalah perumpamaan yang sangat buruk dari Allah SWT.

Karena itu, marilah kita baca dan pahami satu persatu ayat-ayat yang terdapat dalam surat Al Qadr, mudah-mudahan kita tidak tergolong orang-orang diperumpamakan Allah SWT sebagai binatang…!

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Al Qadr ayat 1 (QS 97:1)“Sesungguhnya Kami telah menurunkan-nya (Al Qur’an) pada malam qadr.”

Qadr dalam ayat ini berarti takdir, jadi malam qadr adalah malam ditakdirkannya semua urusan manusia.

Jadi, kapankah malam Qadr tersebut? Riwayat mengatakan bahwa malam Lailatul Qadr jatuh pada malam 19, 21 dan 23 Ramadhan. Riwayat yang paling kuat di ahlul Bayt menyebutkan malam 21 dan malam 23.

Bagaimana dengan di luar ahlul Bayt? Kita ingat setiap tahunnya di Istiqlal dirayakan Nuzulul Qur’an pada malam 17 Ramadhan. Firman Allah SWT dalam ayat pertama surat Al Qadr: “Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada malam qadr”. Jadi bila mereka mengatakan Nuzulul Qur’an jatuh pada malam 17 Ramadhan berarti mereka mangatakan malam qadr adalah malam 17 Ramadhan?  Ternyata tidak juga ! Kalau kita tanya di luar ahlul bayt semua sepakat bahwa lailatul Qadr turun pada 10 hari terakhir syahru Ramadhan, atau malam 21 dst. Jadi yang mana sebenarnya yang mereka anggap sebagai malam al Qadr?!

Kembali pada pembahasan mengenai penurunan kitab yang mulia, Al Qur’an, dalam bulan Ramadhan.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

QS 2:185 “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”

Jika dilihat di bagian akhir ayat disebutkan wali tukabirullah (mengagungkan Allah) – inilah yang menjadi dalil mengenai malam takbiran, yaitu malam dimana umat Islam mengagungkan Allah dengan meneriakkan ”Allahu Akbar” sepanjang malam.

Kembali pada awal ayat, di sini jelas disebutkan Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an”. Al Qur’an yang dimaksud dalam ayat ini adalah Qur’an yang mana?

وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

QS 44:2-5 “Demi Kitab (Al Qur’an) yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul.”

Dalam surat di atas, disebutkan bahwa Al Qur’an diturunkan pada malam yang penuh berkah, merujuk pada surat Al Qadr disebutkan “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Qadr.” Jadi malam Qadr adalah malam yang penuh dengan keberkahan.

Mengutip ayat di atas, ”Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” Untuk kata ”dijelaskan” dalam ayat ini, Allah SWT menggunakan kata ”yufroqu”, dimana dalam tata bahasa Arab kata tersebut masuk kata kerja akan datang (fi’lul mudhariq). Jadi sifat dari kata tersebut berkesinambungan dan menunjukkan bahwa lailatul Qadr ada pada setiap bulan Ramadhan. Dan pada setiap bulan Ramadhan-lah semua urusan manusia dipilah-pilah dan dijelaskan.

Abu Dzar bertanya kepada Rasulullah SAAW,”Ya Rasulullah, Qadr adalah sesuatu yang terjadi pada zaman nabi-nabi dan telah turun kepada mereka (para nabi) urusan-urusan. Apakah apabila mereka telah meninggal dunia dan engkau meninggal dunia akan diangkat oleh Allah?”. Rasulullah SAAW menjawab,”Tidak! Bahkan hingga hari kiamat.”

Kembali pada pertanyaan, Al Qur’an yang manakah yang diturunkan pada malam al Qadr (berdasarkan surat Al Qadr : 1) atau malam keberkahan (Ad Dukhan :1-2) ?

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

QS 17:106 “Dan Al Qur’an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap.”

Ayat di atas berbeda dengan dua ayat sebelumnya yang mengatakan Al Qur’an diturunkan dalam satu waktu. Ayat di atas justru mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur. Jadi yang manakan yang benar?

Pada dasarnya Al Qur’an dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ayat-ayat yang memiliki asbabun nuzul dan ayat-ayat yang tidak memiliki asbabun nuzul. Ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan tanpa ada asbabun nuzul seluruhnya telah diturunkan pada malam Qadr, contohnya surat Al Fatihah dan surat Yasiin, kedua surat ini tidak mempunyai asbabun nuzul. Semua surat yang sifatnya pelajaran atau pendidikan kepada Nabi SAAW tidak memiliki asbabun nuzul dan turun seluruhnya pada malam al Qadr. Surat-surat yang mengandung asbabun nuzul diturunkan secara bertahap selama 23 tahun Rasulullah SAAW berdakwah., misalnya ayat mengenai perang badr, uhud, mubahallah, dsb. Kalau semuanya telah diturunkan pada malam al Qadr, berarti Allah SWT sudah merekam semua kejadian seperti Badr, Uhud, Mubahallah tersebut padahal peristiwa-peristiwa tersebut belum ada. Hal ini berarti Allah telah menentukan kejadian tersebut sejak awal, padahal Allah SWT tidaklah memastikan peristiwa-peristiwa tersebut, melainkan mengetahui hal terjadinya peristiwa tersebut.

Kembali pada pembahasan surat Al Qadr. Dalam ayat 2 disebutkan “Dan tahukah kamu apakah malam Qadr itu?”

Pertanyaan ini adalah pertanyaan istifham (pertanyaan yang menekankan pentingnya suatu hal/peristiwa/kejadian). Kalimat yang digunakan Allah SWT dalam menyebut ”tahukah kamu” dalam ayat di atas adalah ”wa maa adrooka”. Kalimat ini jumlahnya bisa dihitung dalam Al Qur’an, kalimat ini hanya digunakan Allah SWT untuk menunjukkan kejadian atau peristiwa yang sangat besar, misalnya seperti yang terdapat dalam surat berikut ini :

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ

QS 101:3 “Dan tahukah kamu (wa maa adrooka) apakah hari Kiamat itu?”

Kejadian kecil atau besarkah kiamat itu? Tidak ada kejadian kecil dalam Qur’an, semuanya kejadian besar.

Begitupun juga di dalam surat Al Qadr, ini menunjukkan bahwa kejadian Lailatul Qadr adalah sangat besar. Sekarang Allah bertanya kepada kita, bukan hanya kepada Nabi. Kita yang selama ini menanggapinya dengan santai, padahal Allah memerintahkan Nabi untuk serius.  Pertanyaan yang sangat luar biasa dari Allah, kita disuruh jeli dan memahami surat Al Qadr ini untuk memahami pentingnya malam Lailatul Qadr, untuk kemudian memperoleh manfaat darinya.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Al Qadr ayat 3 : “Malam Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan”

Apabila kita kembalikan kepada tafsir-tafsir umum disebutkan bahwa malam al Qadr lebih mulia daripada 1000 bulan, penggunaan 1000 bulan ini diartikan kemuliaan luar biasa sehingga Allah menggunakan kata jumlah yang banyak dan hanya Allah yang bisa menghitung. Jadi apa sebenarnya yang ingin dibahas tafsir-tafsir tersebut mengenai kemuliaan malam al Qadr?!

Imam Shadiq a.s. mengatakan ”Amal saleh yang dilakukan pada malam itu (Al Qadr), dari shalat, sodaqoh, dan macam-macam amal kebaikan lainnya, lebih baik dari kita beramal selama seribu bulan dari amal yang kita kerjakan yang di dalamnya tidak ada lailatul Qadr. Kalau Allah tidak melipatgandakan bagi orang-orang mu’min maka tidak ada satu manusiapun yang akan mencapai surga.”

1000 bulan itu sama dengan 83 tahun, jadi orang yang shalat pada malam itu lebih baik daripada shalatnya orang selama 83 tahun. Di sini Imam a.s. dengan tegas mengatakan n menunjukkan 1000 bukan menunjukkan bilangan yang banyak, tetapi amal baik apapun yang kita lakukan pada malam itu lebih baik daripada 83 tahun kita berbuat, lalu kalikan dengan 3. Apabila tidak dilipatgandakan, tidak akan pernah cukup ibadah kita untuk mencapai tingkatan surga, dan Allah yang Maha Pengasih menciptakan malam al Qadr untuk membantu hamba-Nya mencapai surga-Nya ! Allahu Akbar !

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak mendapatkan Lailatul Qadr?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

QS 66:8 “Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata,”Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa terdapat orang-orang yang cahayanya tidak sempurna walau sudah beramal baik di dunia. Kenapa sampai tidak sempurna? Ini adalah salah satu dari orang-orang yang tidak beramal pada malam Qadr. Padahal yang kita diandalkan di mahsyar maupun barzah adalah cahaya tersebut, sedikit-banyaknya tergantung berapa banyak kita beramal di dunia.

Amirul Mu’minin a.s. berkata,”Hari ini amal tanpa hisab, besok tinggal hisab tanpa amal.” Jadi, kumpulkan cahaya itu sebanyak-banyaknya dari sekarang, janganlah sampai kita menjadi orang-orang yang belum sempurna cahayanya.

Amirul Mu’minin a.s. berkata,”Orang yang paling celaka adalah ketika syahru Ramadhan berakhir masih ada dosa pada dirinya.” Kenapa? Karena bulan ini adalah bulan peleburan, seharusnya dosa habis seluruhnya. Orang-orang yang bertobat pada malam Lailatul Qadr diumpamakan seperti seorang bayi yang baru keluar dari perut ibunya. Orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang tidak memanfaatkan Lailatul Qadr. Karenanya marilah dari sekarang kita berusaha untuk mendapatkan Lailatul Qadr, janganlah kita menjadi salah satu dari orang-orang yang celaka tadi.

Kembali kepada hadis Imam Shadiq a.s. di atas, imam melanjutkan, “Bukan hanya saja Allah melipatgandakan kebaikan bagi orang-orang mu’min tetapi Allah akan menggantikan keburukan-keburukan yang ada pada mereka dengan kebaikan.”

Jadi orang-orang yang mendapatkan Lailatul Qadr akan digantikan dosa-dosanya oleh Allah SWT menjadi pahala. Bagaimana dengan yang berbuat ratusan dosa? Bukan hanya dosanya dihapus, tetapi digantikan dengan ratusan kebaikan. Mungkinkah ini? Ini adalah Karim Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Riwayat menyebutkan ; Satu orang yang sudah putus asa dengan dosa-dosanya datang kepada Rasulullah SAAW pada malam Qadr,”Ya Rasulullah, siapa yang akan menghakimi kita pada hari kiamat?” Rasulullah berkata,”Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia.” “Allah yang Karim itu?”, tanya orang tersebut. “Ya”, kata Rasulullah SAAW. “Kalau gitu aku selamat!”, kata orang tersebut. “Kenapa engkau sebegitu yakin?”, tanya Rasulullah SAAW. “Karena yang Karim itu pasti Memaafkan.”, jawab orang tersebut. “Betul engkau.”, jawab nabi. Kenapa? Karena dia sungguh-sungguh di malam Qadr taubat dengan taubat yang semurni-murninya.

Imam Shadiq a.s. berkata kepada putra Abu Hamzah,”Wahai Ali sampaikan kepada ayahmu, di malam Qadr jika dia tidak bisa beribadah dengan duduk maka berbaring.” Intinya adalah jangan sampai tidur pada malam Qadr, dikhawatirkan ketika maghfiroh Allah yang mutlak turun kita dalam keadaan tidur.

Hadis Imam Shadiq a.s.,”Apabila datang kepada kalian syahru Ramadhan maka bersungguh-sungguhlah menghadapinya, karena pada malam itu dibagikannya rizqi, dan dicatatnya ajal, dan dicatatnya menjadi tamu Allah di musim haji.”

Doa Imam Shadiq yang dibaca setiap setelah shalat:
“Ya Allah sungguh aku mohon kepada-Mu ketetapan yang Engkau tentukan dan tentukan secara bijak sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah dan diganti oleh siapapun. Agar engkau catatkan dalam orang-orang yang berkesempatan menunaikan haji di baitullah al haram …”

Kenapa dalam doa di atas secara eksplisit menyebutkan permintaan untuk haji? Dari begitu banyaknya amal yang baik di sisi Alalh SWT, mengapa dalam doa bulan Ramadhan selalu meminta haji? Hal ini berkaitan dengan sebuah tempat yang selalu didambakan oleh orang-orang haji yaitu Arafah. Rasulullah SAAW berkata mengenai keutamaan Arafah,”Di tempat itu, selama tidak minta maksiat minta apapun akan dikabulkan Allah.” Jadi umat Islam diberikan kesempatan oleh Alalh untuk meminta pengampunan di malam Lailatul Qadr dan di Arafah. Oleh karena itu orang-orang yang tidak berhasil mendapatkan Lailatul Qadr masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT di Arafah. Karenanya mintalah untuk dapat berhaji dan mengunjungi Arafah.  Semoga pengampunan Allah menjadi milik kita. Yaa Karim.

Mengenai malam Lailatul Qadr sendiri, Imam Shadiq a.s. berkata, “Malam 19 adalah lailatul taqdir, malam 21 lailatul ibrom (pembagian), malam 23 adalah lailatul imdho’ (ketetapan).” Jadi ada tiga malam penting Lailatul Qadr. Bagaimana kalau kita tidak mampu beribadah pada ketiga-tiganya? Satu orang datang kepada Imam Shadiq a.s.,”Ya putra Rasulullah yang pasti kapan malam Qadr itu?”Imam menjawab, ”Apa yang menjadikanmu berat untuk beribadah malam tersebut?”. Imam mengatakan kepada kita, dengan segala rahmat dan maghfirah Allah yang disediakan untuk kita, apa yang membuat kita berat untuk beribadah pada tiga malam tersebut? Sementara kita tidak pernah berat untuk bermaksiat kepada Allah SWT !

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

Al Qadr ayat 4 : “Malaikat dan Ruh turun padanya dengan izin Tuhannya untuk mengatur  semua urusan.”

Dalam membahas ayat di atas, kita kembali ke tata bahasa Arab, jika ada kata-kata jamak dimasukkan alif lam itu menunjukkan semua. Di sini Allah berkata tanazzalul malaikatu bukan tanazzalu malaikatu . Hal ini berarti seluruh malaikat turun ke bumi, sehingga kalau boleh kita umpamakan langit itu kosong dari malaikat pada malam itu. Lalu siapakah yang dimaksud Allah SWT dengan ”Ruh”? Dalam terjemahan Qur’an versi Departemen Agama RI disebutkan bahwa Ruh tersebut adalah malaikat Jibril. Satu orang datang kepada Imam Shadiq a.s.,”Wahai Putra Rasulullah, apakah Ruh tersebut Jibril?” Imam a.s. menjawab,”Jibril adalah malaikat.” Jadi apakah Ruh itu? Imam a.s. menyambung,”Satu dari ciptaan Allah yang lebih agung dan lebih mulia daripada Jibril dan Mikail. Dan tidak pernah diturunkan oleh Allah kecuali setelah Rasul SAAW diutus.” Buat apa Ruh ini diturunkan? Merupakan penghormatan Allah kepada Sayyidul Anbiya wa Mursalin.

Untuk mengetahui kedudukan Ruh, sebelumnya kita membahas posisi malaikat Jibril di sisi Allah SWT. Bagaimanakah posisi Jibril di mata Allah?

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ

مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

QS 81:19-21 “Sesungguhnya (Al Qur’an) itu adalah firman Allah (yang dibawa) utusan yang mulia. Yeng mempunyai kekuatan di sisi yang mempunya ‘Arasy yang tinggi derajat. Dipatuhi lagi dipercaya.”

Semua malaikat Allah patuh kepada Jibril, yang berarti Jibril adalah pemimpin seluruh malaikat muqarrabin dan dipercaya untuk membawa wahyu. Sementara Ruh ini lebih mulia daripada malaikat Jibril.[3]

Pertanyaannya adalah mengapa Allah SWT menurukan malaikat dan Ruh ke bumi? Makhluk Allah yang paling banyak adalah malaikat. Rasulullah SAAW berkata,”Jumlah pasir di muka bumi tidak ada apa-apanya dibandingkan jumlah malaikat.” Jadi untuk apakah semua malaikat turun ke bumi? Sesuai dengan surat al Qadr, Mereka turun untuk mencatat urusan-urusan manusia. Siapapun yang menghidupkan malam Qadr akan dirubah ketetapannya (urusan-urusannya) oleh Allah SWT.

Lalu kepada siapakah malaikat dan Ruh turun? Imam Shadiq a.s. bertanya kepada muridnya,”Kepada siapa Ruh dan Jibril dan seluruh malaikat turun ke bumi?” Muridnya menjawab,”Kepada kita mu’minin wahai Putra Rasulullah.” Imam a.s. menjawab,”Alangkah agungnya Allah untuk menurunkan makhluk-makhluk pilihan-Nya kepada manusia yang kotor seperti kalian.”

Memang hebat sekali kalau benar malaikat turun kepada mu’minin.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

QS 2:30 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,”Sesungguhnya Aku yang menjadikan seorang khalifah di muka bumi,” Mereka berkata,”Mengapa Engkau hendak menjadikan di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah padanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman,”Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ayat di atas menyebutkan bahwa hak mutlak dipilihnya khalifah adalah kepunyaan Allah SWT (baca Arkanul Imam). Allah tidak menyebutkan Adam atau manusia tetapi menyebut khalifah? Hal ini menunjukkan begitu pentingnya posisi khalifah bagi manusia, karena itu Allah tidak menyebutkan ciptaan-Nya tapi menyebutkan jabatannya dulu. Berarti Allah mendahulukan khalifah sebelum makhluk.

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

QS 2:31 “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya…

Apakah Allah menggunakan perantara dalam mengajarkan nama-nama tersebut? Tidak! Kenapa? Karena Adam adalah khalifah Allah.

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ

QS 2: 33 “Allah berfirman:”Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama itu!…”

Di sini Allah menggunakan kata anbi’hum (beritahukan) bukan alimhum (ajakan) jadi khalifah memberitahukan (nama-nama) kepada malaikat, yang berarti posisi khalifah di atas posisi malaikat.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

QS 2: 34 “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat,”Sujudlah kamu kepada Adam.”…”

Allah memerintahkan malaikat untuk sujud, bukan sujud taat tetapi sujud penghormatan. Jadi para malaikat berkhidmat kepada khalifah Allah di muka bumi.

Dengan demikian bila kita mempertanyakan kepada siapakah pada malam Qadr seluruh malaikat dan Ruh datang?  Tentunya kepada khalifah Allah di muka bumi.

Mengenai hal ini, Amirul Mu’minin a.s. berkata,”Sesungguhnya lailatul Qadr pada setiap tahun. Dan turun pada malam itu urusan satu tahun. Urusan tadi itu diberikan kepada orang setelah Rasulullah.” Ibn Abbas bertanya,”Siapakah mereka itu wahai Amirul Mu’minin?” Amirul Mu’minin a.s. menjawab,”Aku dan 11 orang dari sulbiku.”

Imam Baqir a.s.,”Hai pengikut-pengikutku, berdalillah kalian kepada orang-orang yang anti kepada ahlil bayt dengan surat Al Qadr.” Dalil yang manakah? Yaitu tanyakanlah kepada mereka, kepada siapakah malaikat-malaikat itu turun bumi? Kalaulah mereka menjawab kepada mukminin, ya Allah apakah mungkin para malaikat berkhidmat ke manusia biasa?!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

QS 66:6 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah (terhadap) apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat di atas menyebutkan bahwa malaikat selalu patuh kepada Allah. Lalu apakah malaikat akan diturunkan kepada manusia yang penuh maksiat padahal mereka tidak pernah bermaksiat sedikitpun? Tentunya tidak mungkin!!!

Lalu kemanakah para malaikat? Catatan yang telah mereka kumpulkan atas manusia, mereka serahkan kepada khalifatullah, Imam Mahdi a.s. untuk dikoreksi. Imam a.s. akan mengurangi musibah para pengikutnya dan merubah apa yang ia kehendaki karena ini adalah hak mutlaknya sebagai khalifah Allah sebelum catatan tersebut di bawa ke Allah SWT. Karena itu janganlah lupa untuk membaca Doa Al Ahad pada lailatul Qadr. Kita nyatakan kesetiaan kita yang abadi kepada imam Mahdi a.s dan minta kehadiran beliau di tengah-tengah kita semua.

Lalu, amalan apakah yang paling baik pada malam Qadr?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

QS 66:8 “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya…”

Jadi yang mau dosanya dilebur oleh Allah dan digantikan dengan kebaikan, bertaubatlah yang semurni-murninya (taubatan nasuha) dan janganlah mengulangi lagi dosa-dosa tersebut.

Imam Shadiq a.s. berkata,”Apabila seorang hamba bertobat kepada Allah, Allah cinta kepadanya, Allah akan menutupi aib-aib hamba tersebut.” Murid Imam a.s. bertanya,”Bagaimanakah di hari kiamat?” Imam a.s. menjawab,”Allah menjadikan malaikat pencatat itu lupa apa yang dia catat.”

Bagaimana kita tahu apakah kita memperoleh Lailatul Qadr apa tidak?

Jawabannya adalah adanya hijrah di hati kita, apakah kita merasa adanya tambahan ibadah, tambahan keyakinan, tambahan kepercayaan. Ini adalah isyarat-isyarat orang yang mendapat percikan Lailatul Qadr. Dapatkah kita yakin akan keberadaan perubahan tersebut dalam diri kita?

بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ

QS 75:14 “Bahkan manusia itu melihat dengan terang terhadap dirinya sendiri.”

Hanya diri kita sendirilah yang dapat mengetahui kita memperoleh Lailatul Qadr atau tidak.


[1] Dianjurkan shalat 5 waktu pada bulan Ramadhan ini jangan membaca surat lain selain Al Qadr dan Al Ikhlas.

[2] Perumpamaan tersebut berlaku bukan hanya untuk surat Al Qadr saja, tetapi juga untuk 30 jus Al Qur’an

[3] Pengertian mengenai ruh bisa beraneka ragam, bisa berarti sesuatu yang ditiupkan Allah kepada kita, bisa juga nama lain dari Nabi Isa a.s, bisa juga ruhul amin (Jibril), tapi Ruh di sini adalah sebuah nama dari makhluk.


Categories