Posted by: syiar.net | April 5, 2008

Bekal-Bekal Kehidupan

Di dalam ilmu tafsir, dikenal istilah nasikh dan mansukh. Nasikh memiliki makna “yang menghapus” dan mansukh “yang dihapus”. Dalam Al Qur’an mansukh terbagi lagi menjadi dua macam, yaitu:

  • Mansukh Tilawatan; dalam mansukh tilawatan ayat Al Qur’an yang bersangkutan sudah tidak ada (dihapus) tetapi hukum yang dibahas masih ada (berlaku)
  • Mansukh Hukman; dalam mansukh hukman ayat Al Qur’an yang bersangkutan masih ada, akan tetapi perihal (hukum) yang diatur sudah tidak berlaku lagi. Hal ini terjadi dalam surat Al Mujaadilah ayat 12 yang akan kita bahas secara lebih mendalam berikut ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۚ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Mujaadilah (QS 58) :12

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian ingin bertanya (najwa) dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah bagi orang miskin sebelum bertanya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih. Jika kamu tiada memperoleh apa yang akan disedekahkan maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”

Ayat di atas menyebutkan bahwa apabila kaum mukminin hendak bertanya kepada Rasulullah, harus memenuhi syarat mengeluarkan sedekah terlebih dahulu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa Al Mujaadilah : 12 adalah ayat yang tergolong Mansukh Hukman, maka hukum itu hanya berlaku pada suatu ketika (yaitu pada saat ayat itu turun) dan tidak berlaku lagi selama-lamanya. Hal ini tentunya menimbulkan makna khusus atas ayat tersebut dan sudah selayaknya sebagai umat Islam kita memahami peristiwa yang berada di balik ayat tersebut dan mengambil manfaat darinya.

Asal muasal turunnya ayat tersebut diawali dengan adanya kebiasaan para sahabat Nabi SAAW yang setiap saat setelah shalat selalu melempar pertanyaan kepada Rasul SAAW di majlis ta’lim Rasul SAAW. Kebiasaan pada saat itu, orang-orang yang mampu dari kalangan sahabat Nabi duduk di shaf awal, sementara sahabat-sahabat yang kurang mampu duduk di belakangnya. Dari sinilah Allah menguji keimanan mereka (para sahabat yang mampu) dengan menurunkan Al Mujaadilah :12. Sebagaimana disebutkan bahwa ayat ini memberikan perintah sedekah kepada yang mampu, sementara disebutkan jika tidak mempunyai kemampuan untuk bersedakah, maka Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. Perintah tersebut hanya berlaku pada saat itu saja, sementara untuk hari-haris selanjutnya hingga hari kiamat, tidak perlu lagi.

Subhanallah! Ketika turun ayat ini tidak ada satupun dari kalangan sahabat yang bertanya kepada Rasul SAAW, kecuali satu orang, yaitu Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib a.s. Tafsir Al Kasyaf oleh Zamakhsyari dan Kitab Minhajul Karomah oleh Abu Na’im menerangkan bahwa hanya Ali bin Abi Thalib a.s yang mengeluarkan sedekah dan bertanya kepada Rasulullah SAAW. Ketika itu Amirul Mu’minin a.s mempunyai uang 1 dinar yang kemudian beliau a.s. tukarkan menjadi 10 dirham. Kemudian Amirul Mu’minin menngunakan setiap dirham dari uang tersebut untuk mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah SAAW. 10 pertanyaan yang diajukan oleh Amirul Mu’minin ini menggambarkan pertanyaan seluruh kaum mu’minin sebagai bekal kehidupan. Oleh karenanya Al Mujaadilah : 12 kemudian dikenal dengan nama “Ayatun Najwa”

Keutamaan Ayatun Najwa tersebut dapat kita lihat dari riwayat berikut ini. Abdullah ibn Umar, putera dari Umar bin Khattab, mengatakan:”Kalau aku diberi oleh Allah salah satu dari tiga keutamaan Ali ibn Abi Thalib, lebih aku sukai keutamaan itu daripada unta merah[1], yaitu: 1. Diberikannya bendera di perang Khaibar. 2. Memiliki istri Fathimah az-Zahra. 3. Ayatun Najwa.”

Begitu besar makna Ayatun Najwa! Karenanya marilah kita mencoba memahami makna ayat tersebut dengan berusaha meresapi dan mengambil hikmah dari 10 pertanyaan yang diajukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as kepda Ar Rasul SAAW.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

  1. Amirul Mukminin Ali as : Apakah Kesetiaan itu?

Rasulullah SAAW : ”Syahadatun La illaha ilallah (Bersaksi tiada sembahan kecuali Allah)”

Pertanyaan mengenai kesetiaan ini adalah apakah kesetiaan hakiki, bukan kesetiaan dalam kehidupan yang semu. Jadi arti kesetiaan itu tidak hanya sekedar yang terlihat melainkan kesetiaan secara hakekat, yaitu kesetiaan kita sebagai makhluk kepada Allah SWT.

وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Al A’raaf (7) ayat 172 :”… Allah mempersaksikan diri-Nya di depan mereka. Apakah aku adalah Tuhanmu? Mereka menjawab betul, kami menjadi saksi. Agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan sesungguhnya kami Bani Adam adalah orang-orang yang lemah terhadap ini.”

Lalu bagaimanakah Allah mempersaksikan diri-Nya kepada manusia? Imam Ja’far Shadiq a.s.  menjelaskan bahwa kita melihat Allah dengan mata hati yaitu dengan hakekat keimanan, bukan secara fisik.

Allah SWT meminta kesaksian manusia dengan menanyakan “Apakah Aku Tuhanmu?” yang kemudian dijawab manusia “Benar”. Janji kesetiaan manusia ini pada hari kiamat nanti akan ditagih kembali oleh Allah SWT.[2]

Apakah manusia akan mampu menepati janjinya?

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

QS 91 (Asy Syams) ayat 7 – 9 : “Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kebajikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mempertahankan kesucian jiwa itu”

Ayat di atas menyebutkan “demi jiwa dan penyempurnaannya”, yang berarti Allah telah menyempurnakan jiwa di alam ruh. Oleh karenanya ruh semua manusia adalah suci. Sebagai tambahan dari penyempurnaan tersebut, Allah memberikan ilham kepada jiwa manusia untuk dapat mencapai kebajikan dan ketakwaan dan dengannya dapat membedakan kebaikan dan keburukan. Jadi dapat kita simpulkan bahwa pada dasarnya semua manusia diciptakan bukan hanya secara sempurna, tetapi juga dilengkapi dengan kemampuan untuk mencapai kebajikan dan ketakwaan, atau dengan kata lain kemampuan untuk mempertahankan janji setia mereka kepada Allah SWT. Oleh karena itu di akhir ayat disebutkan orang-orang yang beruntung adalah mereka yang mempertahankan kesucian jiwa mereka, bukan mensucikan jiwa tersebut.[3] karena jiwa manusia pada awalnya sudah suci.

Itulah kesetiaan yang dimaksud Rasulullah SAAW dalam Ayatun Najwa. Kesetiaan hakiki kita sebagai makhluk untuk adalah mempertahankan kesaksian kita, mempertahankan kesucian kita dari alam ruh hingga nantinya kembali kepada Allah SWT.

  1. Amirul Mukminin Ali as : Apakah Kerusakan itu?

Rasulullah SAAW : ”Asy Syirik wa Kufur (syirik dan kafir)”

Kerusakan yang dimaksud dalam hal ini adalah kerusakan secara batiniyah bukan lahiriyah. Kerusakan lahiriyah adalah buah dari kerusakan batiniyah.

Dalam Al Qur’an disebutkan “telah tampak kerusakan di darat maupun laut akibat ulah tangan manusia.” Kerusakan-kerusakan darat ataupun lautan adalah kerusakan secara lahiriyah. Akan tetapi apabila kita pikirkan lebih lanjut manusia-manusia yang melakukan kerusakan tersebut adalah manusia yang tidak memiliki keimanan, manusia yang dengan kesyirikan dan kekafiran membuat kerusakan di muka bumi ini.

  1. Amirul Mukminin Ali as : Apakah kebenaran (haq) itu?

Rasulullah SAAW : ”al Islam, wal Qur’an, wal Wilayah.” (Islam, Qur’an dan Wilayah)

Kebenaran digambarkan dengan Islam dan Al Qur’an. Kenapa wilayah diikutsertakan? Sementara Islam sudah menjadi bentuk (wadah) dan Al Qur’an sudah menjadi undang-undangnya.

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

QS 26:214 “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”

Asbabun nuzul dari ayat tersebut adalah Rasulullah SAAW diperintahkan untuk mengumpulkan Bani Hasyim di bukit Shafa. Nabi kemudian berdiri di atas bukit dan mengajak keluarganya kepada tauhid, sementara jawaban mereka semua menolak. Hanya Imam Ali a.s. yang menjawab ajakan Rasulullah SAAW dan kemudian ditunjuk oleh Rasul sebagai washi beliau SAAW.

  1. Amirul Mukmini Ali as : Apakah hilah itu?

Rasulullah SAAW : “tinggalkan hilah”

Apakah hilah itu? Hilah adalah perbuatan yang menghindarkan diri dari kewajiban hukum agama. Sebagai contoh, ketika waktunya seseorang harus mengeluarkan khums, orang tersebut menghabiskan uangnya sehingga dia tidak terkena hukum khums, padahal pengeluaran itu tidaklah diperlukan. Contoh lain, seseorang malas puasa, dan dia bolak balik keluar kota agar terhindar dari kewajiban puasa.

  1. Amirul Mukminin Ali As : Apakah yang harus dipegang dalam hidup ini?

Rasul SAAW : “Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.”


  1. Amirul Mukminin Ali as : Bagaimana cara saya berdoa kepada Allah?

Rasul SAAW : “Dengan kejujuran dan keyakinan.”

Sebagaimana Allah menyuruh manusia untuk meminta (berdoa) kepada-Nya, timbul pertanyaan bagaimana cara kita meminta. Jawabannya adalah dengan kejujuran dan keyakinan. Makna daripada kejujuran adalah kita meminta itu benar-benar meminta kepada Allah, bukan agar kelihatan dengan orang lain, atau bertemu dengan orang lain.

(QS Fathir (35):15)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang fakir kepada Allah, dan Allah Dialah yang Mahakaya lagi Terpuji

Bagaimana halnya dengan keyakinan? Rasul berkata bahwa ketika kita meminta kepada Allah kita harus yakin bahwa ketika itu Allah telah mengabulkan doa kita. Jangan masih terbesit dalam hati maupun ucapan kata kalimat “mudah-mudahan Allah mengabulkan doa tersebut” karena ini berarti kita tidak yakin Allah mengabulkan doa kita.

QS Ghafir(40):60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagimu, Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk keneraka Jahannam dalam keadaan hina dina

 

Hadist Rasulullah saw:

Mohonlah kepada Allah berbagai keperluanmu ; berlindunglah pada-NYA kala menghadapi musibah; rendahkan dirimu dihadapan-NYA dan berdoa’alah kepada-NYA, sesungguhnya doa adalah inti ibadah. Dan tak ada seorang mukmin yang berdoa pada Allah melainkan DIA akan mengabulkannya; kemungkinan Allah mengabulkan doamu di dunia, atau menunda untuk diberikan diakhirat, atau Allah akan menghapus dosa-dosanya sebatas doanya, selama ia tidak memohon dalam keadaan berdosa

  1. Amirul Mukminin Ali as : Apa yang harus saya minta kepada Allah?

Rasul SAAW : “Kalau meminta kepada Allah janganlah meminta yang lain dulu, mintalah kesejahteraan (afiyah).”

Afiyah (kesejahteraan) sudah melingkupi segala-galanya. Jika kita ingat, ada doa Allahumma inni as ‘alukal afwa wal afiyah, yaitu berikanlah (Ya Allah) maaf dan kesejahteraan.

  1. Amirul Mukminin Ali as : Apa yang harus saya perbuat untuk keselamatan diri saya?

Rasulullah SAAW : “makanlah yang halal dan berkatalah yang jujur”

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

QS Mu’minun (23):51 “Hai rasul rasul makanlah yang baik baik dan beramallah yang soleh”

Dalam membahas ayat tersebut, kita harus memahami ilmu tafsir dalam Al Qur’an dimana penafsiran terbagi dalam 4 bagian, yaitu:

–       ibarah

–       isyarah

–       lathoif

–       haqoiq

Ibarah adalah tafsir untuk orang-orang awam, seperti kita ini, yang hanya memahami ayat sebagaimana isinya (tanpa mengkaji makna ayat tersebut). Isyarah adalah tafsir untuk orang-orang yang mau memperdalam Qur’an. Lathoif adalah tafsir untuk para awliya Allah. Haqoiq adalah tafsir khusus untuk al Anbiya wal mursalin, dan juga al ma’shumin.

Kembali pada ayat di atas, penafsiran Ibarah dari ayat tersebut di atas adalah seperti kalimatnya, yaitu makanlah yang baik dan beramal soleh. Sementara tafsir Isyarah dari ayat tersebut adalah makanan yang baik dan halal akan mengantarkan kita kepada kejujuran.

  1. Amirul Mukminin Ali as : Apakah kebahagiaan itu?

Rasulullah SAAW : “al Jannah (surga)”

Yang ditanyakan oleh Amirul Mu’minin a.s bukanlah kebahagiaan semu yaitu kebahagiaan dunia. Yang ditanyakan disini adalah kebahagiaan sejati.

Oleh karena itu Rasulullah SAAW menjawab bahwa kebahagiaan sejati adalah surga.

Kalau kita berbicara bahagia, bahkan orang kafir pun juga bisa merasa bahagia, tetapi kebahagiaan lahir. Sementara kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan bathin, kebahagiaan yang abadi yaitu al Jannah. Semua kebahgiaan selain surga bukanlah kebahagiaan, melainkan hanya semu. Semua bala yang menimpa kita bukanlah bala, selain api neraka sebab api neraka adalah bala yang sesungguhnya.

Amirul Mu’minin a.s. dalam doanya berkata, “Yaa Allah, aku mencintai jenis ketaatan kepada kamu, apapun jenisnya, walau aku tidak mengamalkannya. Dan aku membenci semua jenis kemaksiatan kepada-Mu walau aku melakukannya. Maka berikanlah surga-Mu.”

  1. Amirul Mukminin Ali as : Apakah ketenangan itu?

Rasul SAAW: “berjumpa dengan Illahi”

Ketenangan yang kita rasakan saat ini mungkin karea masalah yang kita hadapi terselesaikan, hanyalah ketenangan semu – ketenangan duniawi. Tapi apabila kita bertanya ketenangan secar hakiki, ketenangan yang abadi tidak lain adalah perjumpaan kita dengan Allah, sang khalik.

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

QS Al Kahfi (18):110 “..barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan Tuhan-Nya..”

Maksud berjumpa dalam ayat ini adalah berjumpa dengan hati. Karena Allah tidak bisa dilihat dengan mata indra. Di surga nanti manusia-manusia akan merasakan berjumpa dengan Tuhannya, tetapi di dunia orang-orang irfan dapat menjumpai Tuhannya. Ketika hati sudah dapat berjumpa dengan Allah, surga tidak ada artinya.

Demikianlah 10 pertanyaan Amirul Mukminin Ali as yang tidak terlintas dalam hati manusia, pertanyaan yang mengandung makna hakiki, bukan hanya semu, yang akan menjadi bekal hidup dan pedoman manusia untuk menuju kepada Allah SWT dan mencapai kebahagiaan hakiki.


[1] Pada saat itu unta merah adalah sumber kebanggaan bagi bangsa Arab dan sedikit sekali orang yang memilikinya

[2] Janji manusia ini kemudian ditempelkan oleh Allah SWT pada Hajar Aswad. Oleh karena itulah umat Islam disunnahkan untuk mencium hajar Aswad dalam ritual Haji dan Umrah

[3] Beberapa terjemahan menyebutkan “Beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa mereka”. Pernyataan tersebut tidak tepat karena Allah-lah yang mensucikan jiwa manusia



Categories