Posted by: syiar.net | December 27, 2009

Bagaimanakah Puasa di hari Ashura

Shahih Muslim

Kitab Al Sawm (Puasa), Hadis nomor 2518

Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah menemukan bahwa Yahudi Madinah berupasa pada hari Ashura.  Datang Rasulullah ke Yahudi dan berkata, “Puasa apa kalian?” Yahudi menjawab, “Kami mengucapkan syukur kepada Allah dimana hari ini (ashura) Allah menyelamatkan Musa dari kejaran Fir’aun.” Rasulullah berkata,”Saya lebih berhak atas Musa dari kalian.”

Hadis nomor 2528

Ibnu Abbas meriwayatkan, para sahabat berkata kepada beliau,”Ya Rasulullah, ashura adalah hari yang dijunjung tinggi oleh umat kristen dan yahudi. Kemudian Rasulullah berkata,”Tahun depan, insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ashura.” Tetapi Rasulullah meninggal sebelum ashura tahun berikutnya.

Shahih Bukhari

Kitab Puasa, Hadis nomor 117

Diriwayatkan oleh Aisyah: Bangsa Quraisy selalu berpuasa pada hari Ashura sebelum Islam diwahyukan, juga Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk berpuasa Ashura sampai kemudian puasa Ramadhan diwajibkan dan beliau bersabda,”Siapa yang ingin berpuasa pada hari Ashura dipersilahkan, dan siapa yang tidak ingin berpuasa maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa.”

Mari kita kritisi hadits di atas.

1. Rasulullah bertanya kepada Yahudi mengenai puasa. Kemanakah Jibril? Apakah Jibril istirahat? Kenapa Rasulullah tidak bertanya kepada Jibril? Kenapa tidak turun wahyu mengenai berpuasa pada hari ashura?

2. Sewaktu Rasulullah mengatakan tahun depan kita berpuasa itu adalah tahun 9H, karena Rasulullah meninggal pada 10H. Padahal kita tahu sejak tahun 6H tidak ada satupun Yahudi lagi di Madinah.

3. Di Shahih Bukhari dinyatakan oleh Aisyah bahwa puasa Ashura sudah dilakukan semenjak sebelum zaman Islam, dan Rasulullah memerintahkan puasa pada hari Ashura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Isi hadis ini bertentangan sama sekali dengan isi Shahih Muslim sebelumnya yang menyatakan bahwa Rasulullah baru mengetahui mengenai puasa pada hari Ashura.

Dengan kritisi di atas kita dapat menyimpulkan bahwa hadis-hadis tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, sehingga tidak dapat dijadikan pegangan. Dan bahkan hadis tersebut bertentangan satu sama lain, yang keshahihannya patut dipertanyakan.


Categories