Posted by: syiar.net | April 17, 2010

Al Mubaroqah (Yang Diberkahi)

Salah satu gelar yang dimiliki oleh Sayyidah Fatimah Az Zahra as adalah Al Mubaroqah yang memiliki arti “yang diberkahi”.  Apakah yang dimaksud dengan “diberkahi”? Untuk menjawabnya, mari kita lihat ayat berikut ini :

QS Ad Dukhan (44):1 – 3

 حم

وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Haa Miim. Demi Kitab yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”

Ayat di atas membahas tentang malam yang diberkahi yang dikenal dengan malam Lailatul Qadr. Hadits Imam Ja’far Shadiq a.s.,menyebutkan bahwa “Fathimah Az Zahra adalah Shiddiqatul Qubra, barangsiapa yang mengakui hak-hak Fathimah (yaitu wilayah) dan mengakui kualitas Sayyidah Zahra, PASTI dia akan mendapatkan Lailatul Qadr.”

Sebagian besar umat Islam mengenal Fathimah Az Zahra hanya sebagai putri Rasulullah SAAW, atau istri Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, hanya itu saja dan tidak memiliki arti lebih. Sementara yang disebutkan dalam hadis di atas salah satunya adalah mengakui hak-hak Sayyidah Fatimah as. Apa yang dimaksud dengan hak dalam hal ini? Hak di sini adalah wilayah. Fathimah Az Zahra adalah ibu dari para Imam, pemegang wilayah, jadi hak Fathimah adalah hak para Imam.  Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ja’far as, yang tidak mengakui hak Fathimah menjadi tidak berarti kecintaan mereka kepada Fathimah.

Dalam azan setelah ucapan “Hayya alal Falah”, ucapan berikutnya adalah “Hayya ala Khairil Amal.” (marilah berbuat sebaik-baiknya amal). Coba kita pikirkan, apa Khairil Amal tersebut. Apakah Sholat? Sepertinya tidak tepat karena ajakan untuk Sholat sudah dipanggil sebelumnya (Hayya alal Sholah). Imam Ja’far Shadiq a.s. bersabda,”Khairul amal bir Fathimah wa wuldiha (sebaik-baiknya amal adalah berbakti kepada Fathimah dan keturunannya yang suci).”

Keutamaan Sayyidah Fatimah Zahra as dalam Al Qur’an disebutkan dalam surat Al Kautsar sebagai berikut :

QS Al Kautsar (108): 1

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak.”

Dalam tata bahasa Arab, ayat di atas menggunakan kata kerja lampau. Walaupun demikian tidak selalu kata kerja lampau dalam Al Qur’an menunjukkan “telah dilakukan”. Ni’mat yang banyak sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas tersebut belumlah ada sewaktu ayat turun, tetapi kata yang digunakan adalah kata kerja lampau.

Kata Al Kautsar diartikan sebagai ni’mat yang banyak. Kautsar berdasarkan terjemahan bahasa Arab sebenarnya adalah kebaikan, jadi arti sebenarnya dari ayat di atas adalah kebaikan yang banyak.

QS Al Kautsar (108):2-3

 فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang membenci kamu dialah yang terputus.”

Sebagian besar ahli tafsir sepakat bahwa ayat ini turun buat Ash bin Wa’il, salah satu tokoh kafir Quraisy yang membenci Rasulullah SAAW.

Berdasarkan sejarah anak Rasulullah SAAW terdiri atas Qosim, Thohir, Abdullah, Ibrahim dan Fathimah az Zahra. Banyak yang menyebutkan bahwa Ummu Kultsum, Ruqaiyah, Zainab adalah putrid-putri Rasulullah SAAW. Mereka bertiga sebenarnya adalah keponakan Sayyidah Khadijah as, bukanlah anak Rasulullah SAAW. Sayyidah Khadijah memiliki seorang kakak yang bernama Hallah, ketika Hallah meninggal dunia, anak-anak Beliau dipelihara dari yatim oleh Sayyidah Khadijah. Terdapat beberapa peristiwa dalam sejaraj yang membuktikan bahwa mereka bertiga bukanlah putrid-putri Rasulullah. Pertama, jika mereka adalah putri Rasulullah, apa mungkin Rasulullah membiarkan mereka menikah dengan orang kafir? Suami Ruqaiyah adalah Munabba, sementara suami Ummu Kultsum adalah Munabbi, keduanya anaknya Abu Jahal. Suaminya Zainab adalah Ash (bukan Ash bin Wa’il) seorang Quraisy kafir. Nabi membiarkan karena bukan hak Nabi untuk melarang, karena mereka bukanlah putri-putrinya. Kedua, ketika tanah fadaq Rasulullah dapatkan sebagai fai (hadiah bukan ganimah/ pampasan parang) dari orang Yahudi untuk Rasulullah pribadi, Allah katakan,”Ya Muhammad, hak ini berikan kepada Fathimah.” Kalau Zainab, Ummu Kultsum, Ruqaiyah adalah anak Rasulullah maka Rasulullah tidak adil.

Ketika Qosim bin Rasulullah meninggal pada usia 2 tahun., sayyidah Khadijah sering sekali menangis selepas Qosim meninggal, sampai Rasulullah sering berkata kepada Sayyidah Khadijah,”Wahai Khadijah, dia punya ibu asuh di surga, kalau engkau mau saya dengarkan tangisannya kepadamu.”

Ketika Qosim meninggal, Ash bin Wa’il menghampiri Rasulullah. Dia berkata,”Ya Muhammad, saya melihat wajah kamu kurang begitu cerah, apakah ada sesuatu yang menimpamu?” Rasulullah berkata,”Telah meninggal putraku Qosim.” Kelompok Abu Jahal ketika melihat Ash duduk dan berbicara dengan Rasulullah berkata,”Ya Ash, berbicara dengan siapa kamu?” Ash menjawab,”Aku sedang berbicara dengan si abtar (orang yang terputus/ tidak punya keturunan)”[1] Begitu juga ketika Rasulullah dijulukin abtar, Allah langsung membalas dengan ayat Al Qu’an bahwa Ash-lah yang abtar.

Kembali ke tafsir, apakah yang dimaksud dengan “kebaikan yang banyak (Al Kautsar)” ? Banyak yang menyebutnya sebagai syafaat, ada pula yang mengatakan mu’jizat, dan ada pula yang mengatakan telaga. Tetapi Al Kautsar yang dimaksud dalam ayat ini adalah “keturunan yang banyak”. Kenapa demikian? Karena topiknya sesuai dengan ayat yang terakhir. Yang mengatakan bahwa Rasulullah terputus keturunannya dialah yang abtar (terputus). Riwayat mengatakan puluhan kali Ash bin Wa’il nikah, tidak punya anak. Ini adalah kutukan Allah, bahwa dia tidak akan memiliki keturunan. Lalu siapakah Amr bin Ash? Tidak mungkin Ash bin Wa’il memiliki keturunan karena Allah tidak mungkin salah. Ibu dari Amr bin Ash ini adalah seorang wanita yang berganti-ganti pria, ketika Amr lahir dinisbatkan kepada ‘Ash karena ‘Ash-lah yang paling kaya.

Berdasarkan pembahasan di atas bahwa Al Kautsar adalah keturunan yang banyak atau yang baik  dari Rasulullah SAAW, timbul pertanyaan siapakah yang menurunkan? Satu-satu anak Rasulullah yang hidup sampai dewasa adalah Fathimah az Zahra as. Jadi Fathimah Az Zahra-lah yang menurunkan keturunan yang banyak bagi Rasulullah SAAW. Oleh karena itu salah satu julukan Fathimah az Zahra adalah al Kautsar. Inilah sosok al Kautsar di dunia, sebagaimana kita ketahui, ada juga Al Kautsar di akhirat yaitu sungai yang mengalir ke telaga Rasulullah. Mustahil orang yang tidak mengenal Kautsar di dunia akan mendapat Kautsar di akhirat. Hal inilah yang dimaksud dengan hadis Imam Shadiq as. Yang telah kita sebutkan di awal pembahasan di atas.

Setelah perjanjian hudaidiyah, setelah gencatan senjata 10 tahun, selama 10 tahun itu Rasulullah memanfaatkan untuk da’wah ke seluruh pelosok. Setelah 10 tahun itu baru Allah memerintahkan Rasulullah untuk berangkat ke Makkah. Ketika itu kaum musyrikin sudah tidak ada kekuatan dan Rasulullah masuk ke kota suci Mekah dengan kemenangan mutlak . Peristiwa tersebut direkam dalam ayat berikut:

QS An Nasr (110):1 – 3

 إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (Fath)” “Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.”

Dimanakah Rasulullah melihat manusia masuk agama Allah berbondong-bondong? Sementara ayat di atas turun setelah banyak manusia yang masuk Islam. Ketika ayat mengatakan bahwa kamu melihat manusia berbondong bondong, apakah perintah Allah? Bertasbihlah. Tasbih berbunyi Subhanallah yang maknanya meminta ampun. Apakah Nabi memiliki dosa sehingga disuruh utnuk minta ampun? Nabi disuruh istighfar dalam ha lini untuk memberikan contoh, bukan berarti Nabi punya dosa. Di Shahih Bukhari Bab Istighfar Nabi setiap hari beristighfar sebanyak 70 kali. Umar bertanya kepada Rasulullah,”Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin surga?” Nabi bersabda,”Apakah aku salah menjadi hamba yang bersyukur?” Jadi sahabat ketika itu  (fathul Makkah) mengucapkan Subhanallah dan Astaghfirullah. Apa pentingnya istighfar? Sebagai contoh, kita memiliki toko di pasar dan toko kita tidak terbakar, ada informasi bahwa pasar terbakar dan toko kita tidak terbakar. Apa ucapan kita secara refleks? Pasti mengucapkan Alhamdulillah. Ini adalah tingkatan awam manusia. Allah mengajarkan untuk lebih tinggi lagi, yaitu Astaghfirullah. Senapa harus membaca istighftar? Karena bisa jadi di balik peristiwa yang kita syukuri tersebut ada keburukan, jadi kitai diulur oleh Allah SWT. Toko milik yang lain hangus, sementara kita tidak. Alhamdulillah menunjukkan keegoisan kita. Kita tidak peduli yang lain terbakar yang penting toko kita tidak. Tidak salah memang, tapi Allah tidak mau seperti itu. Dengan kemenangan kaum muslimin dan takluknya kota Makkah maka istighfar. Ingat takluknya kota Makkah adalah sesuatu yang sangat besar, sehingga turun ayat tadi. Hanya perintah Allah kepada Nabi untuk mensyukuri kemenangan tersebut yaitu dengan tasbih dan istighfar.

Kembali kepada Al Kautsar. “Aku telah memberikan kepada engkau Fathimah Az Zahra.” Pemberian Allah kepada Nabi, harus disyukuri. Dengan apa? Tidak cukup dengan tasbih, karena jauh lebih besar dibandingkan penaklukan kota Makkah. Karena dari rahimnya akan melahirkan ushuluddin, akidah, yaitu imamah. Selama ini kita dalam pembahasan Isra Mi’raj hanya membahas Rasulullah membawa perintah sholat. Ha lini benar, karena semua amal ibadah yang lain cukup melalui Jibril. Sementara sholat ke Sidrathul Muntaha, sehingga sholat disebut umul furu’ (ibunya syariat).

Ketika Fathimah az Zahra as lahir di dunia, tidak ada orang yang membantu Sayyidah Khadijah selain Ummu Aiman dan Fathimah binti Assad. Ummu Aiman adalah pembantunya Abdul Muthalib, berapa usia Ummu Aiman saat itu? Karena itu riwayat dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah karangan Al Qundusi al Hanafi, turun 4 wanita dikirim wanita oleh Allah. Mereka adalah Maryam binti Imran, Asiah binti Muzahim, Hawa, dan Kaltsan (saudara perempuan Nabi Musa). Turun membantu kelahiran Sayyidah Khadijah. Hawa ketika melihat bayi ini dilahirkan berkata,”Alangkah banyaknya kebaikan ini bayi.” Maryam berkata,”Alangkah banyaknya keberkahan ini bayi.” Asiah berkata,”Alangkah banyaknya cahaya bayi ini.” Kaltsan berkata,”Alangkah pendeknya usianya.”

Pada usia 5 tahun Sayyidah Zahra ditinggal oleh ibunya. Rasulullah setiap pulang dari peperangan tidak ke rumah istri-istri beliau, melainkan melihat keadaan putri beliau Fathimah. Ketika pernikahan Fathimah tidak pernah dalam sejarah Rasulullah masuk dapur dan memasak di dapur. Beliau menggulung lengan baju dan memotong onta, kemudian memasaknya di dapur, demi walimah putri beliau. Sedemikian besar kecintaan Rasulullah terhadap Sayyidah Fathimah.

Doa Rasulullah pada pernikahan Sayyidah Zahra dengan Imam Ali adalah,”Ya Allah keluarkanlah dari mereka berdua keturunan yang banyak yang baik (Al Kautsar)”

Karena itu Alusi dalam Ruhul Ma’ani, mengomentari tentang perbandingan antara Aisyah dengan Sayyidah Zahra. Alusi berkata,”Saya sayangkan saudara saudara saya ini berpendapat jauh berbeda dengan saya. Mereka mengatakan bahwa Aisyah lebih mulia daripada Fathimah, dengan alasan hadits Nabi,”Ambillah sepertiga agamamu dari Humairah (Aisyah).” Alusi berkata, karena Nabi tahu Fathimah tidak hidup lama. Kalau seandainya Fathimah hidup lama sebagaimana lamanya Aisyah, Nabi akan mengatakan,”Ambillah semua agamamu dari Fathimah.”

Sahabat-sahabat Rasulullah yang maqomnya tinggi, yang keimanannya luar biasa, setiap kali datang ke Rasulullah ingin menunjukkan rasa pengorbanannya kepada Nabi kalimat yang sering kita dengar di buku-buku bacaan adalah “Jiwaku menjadi tebusan bagimu Ya Rasulullah.” Tidak semua sahabat yang mengucapkan kalimat tersebut, hanya sahabat yang siap mati bagi Rasulullah. Sewaktu Rasulullah sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya, datang Fathimah Zahra dengan wajah yang sedih. Berdiri dari tempat duduknya Rasulullah menghampiri putri kesayangannya dengan mengucapkan,”Selamat datang wahai ibu dari bapaknya. Apa yang menjadikan engkau sedih wahai Fathimah? Tebusanmu adalah Abahmu wahai Fathimah!”

Sebegitu besar penghormatan Rasulullah terhadap putri beliau, sementara umatnya menyia-nyiakan Fathimah.

Rasulullah berkata kepada Salman al Farisi,”Ya Salman, mencintai Fathimah akan menjadi manfaat untukmu di 100 tempat pemberhentian di yaumul kiamat. Yang paling kecil dari tempat itu adalah sakaratul maut.”

Demikian pembahasan kita mengenai gelar Al Mubarokah bagi Sayyidah Fatimah Az Zahra as, semoga mendatangkan barokah bagi kita semua.


[1] Acapkali ketika Rasulullah diejek , Allah yang langsung menjawab dengan ayat dalam Al Qur’an. Seperti ayat Al Lahab, Ayat tersebut turun ketika Rasulullah mengumpulkan Bani Hasyim untuk mengajak mereka kepada tauhid kemudian Abu Lahab verkomentar, ”Hanya untuk ini kamu kumpulkan kami Muhammad? Celakalah engkau!” Seketika itu turunlah ayat yang mengutuk Abu Lahab.


Categories