Posted by: syiar.net | April 17, 2010

Rijaalul Araaf

Surat ketujuh dalam Al Qur’an adalah surat Al A’raaf yang memiliki makna “Tempat Yang Tinggi”. Makna apakah yang terdapat dalam nama surat tersebut dan faedah apakah yang dapat kita ambil darinya? Berikut kita akan membahas ayat-ayat dalam surat tersebut.

QS 7 (Al Araaf): 35 – 36

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. Tetapi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Kalimat pertama ayat di atas menyebutkan “Jika datang kepadamu rasul-rasul (rusulun)…”. Penggunaan kata rusulun menunjukkan makna jamak, karena jika hanya satu kata yang digunakan seharusnya adalah “rasul”. Rasul-rasul sebagaimana disebutkan dalam ayat ini berasal dari kalangan manusia, mereka bertugas menceritakan ayat-ayat Allah kepada manusia. Dalam menerima ajaran rasul-rasul tersebut, manusia dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:

  1. orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik  (“maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati”)
  2. orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan sombong terhadapnya (“orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya”)

Jadi ayat di atas membagi manusia menjadi dua kelompok. Lalu, apakah kelompok kedua (yang mendustakan dan sombong terhadap ayat-ayat Allah) menunjuk kepada orang-orang kafir (di luar Islam)? Apabila kita meneliti ayat tersebut secara lebih lanjut, ayat-ayat Allah yang dimaksud tentunya adalah Al Qur’an, dengan demikian kelompok kedua ini tentunya bukanlah berasal dari luar Islam. Orang-orang di luar Islam sudah pasti tidak menerima Al Qur’an ! Sementara ayat ini membahas mengenai orang-orang yang mendustakan dan sombong terhadap Al Qur’an.

Dari ayat ini kita juga dapat menyimpulkan bahwa rasul-rasul memiliki dua macam tugas. Tugas yang pertama adalah memberi kabar gembira bagi orang-orang yang bertaqwa dan beramal soleh, dan pada saat yang sama mereka juga mendapat tugas menyampaikan ancaman kepada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.

Surat Al A’raaf juga membahas mengenai penduduk surga dan penduduk neraka, sebagaimana terdapat dalam ayat-ayat berikut ini :

  1. Penduduk Neraka

Ayat-ayat berikut membahas siapakah penduduk neraka dan bagaimana sifat-sifat mereka.

QS 7: 38 – 41

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

“Allah berfirman, “Masuklah kamu ke dalam api neraka bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari kamu.” Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang (masuk) belakangan (kepada) orang yang (masuk) terlebih dahulu, “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada mereka” Allah berfirman, “Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tapi kamu tidak mengetahui.” Dan orang yang (masuk) terlebih dahulu berkata kepada yang (masuk) belakangan, “Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami. Maka rasakanlah azab itu karena perbuatan yang telah kamu lakukan.” Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat. Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim”

  1. Penduduk Surga

Ayat-ayat berikut membahas siapakah penduduk surga dan bagaimana sifat-sifat mereka.

QS 7: 42 – 44

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۖ قَالُوا نَعَمْ ۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَنْ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.” Diserukan kepada mereka, “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.” Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, “Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah dan ingin membelokkannya. Mereka itulah yang mengingkari kehidupan akhirat.””

Ayat-ayat di atas membagi manusia ke dalam kelompok penghuni surga dan penghuni neraka. Tetapi ternyata masih ada kelompok manusia lain sebagaimana terdapat dalam surat Al A’raaf ayat 46 berikut ini :

 وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada batas (hijaab) dan di atas A’raaf  ada orang-orang (rijaalun) yang mengetahui  mereka (penduduk neraka dengan penduduk surga) dengan tanda-tanda mereka. Mereka (Rijalun yang berada di atas A’raaf) berseru kepada penghuni surga “Salaamun alaikum”. Mereka (penghuni surga) belum memasukinya, tetapi mereka ingin segera memasukinya (surga).

Apa yang bisa kita simpulkan dari ayat di atas? Ternyata terdapat kelompok manusia yang berada di atas A’raaf, dimana kelompok manusia ini mengenal penduduk surga dan neraka.

Lalu siapakah kelompok manusia ini? Dan seperti apakah kedudukan mereka?

Pada dasarnya Ayat 46 inilah intisari dari Surat Al A’raaf, maka sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, marilah kita terlebih dahulu membahas secara mendalam istilah-istilah yang digunakan dalam ayat di atas untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai surat Al A’raaf ini.

  • HIJAB

“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada batas (hijaab)..”

Berikut penggunaan kata Hijab dalam Al Qur’an :

QS Al Hadid (57): 13

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ

“Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu.” (Kepada mereka) dikatakan, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu di antara mereka dipasang dinding (Arab: bisuurin) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada azab.”

 

Dinding pada ayat tersebut mempunyai arti yang sama dengan batas yang terdapat dalam QS 7: 46 di atas. Berdasarkan ayat tersebut, yang dimaksud dengan hijab adalah pemisah antara penduduk surga dan penduduk neraka.

Sekarang kita telah memahami bahwa antara penduduk surga dan neraka terdapat hijab. Kembali kepada surat Al A’raaf ayat 46, Rijalun yang berada di atas A’raaf disebutkan mengenal kedua kelompok yang telah terpisahkan oleh hijab tersebut. Selain itu ayat tersebut juga menyebutkan bahwa Rijalul A’raaf berbicara dengan penghuni surga “…Mereka (Rijalun yang berada di atas A’raaf) berseru kepada penghuni surga “Salaamun alaikum”..”

Dalam ayat 48 juga disebutkan bahwa Rijaalul A’raaf berbicara kepada penduduk neraka, sebagai berikut : “Dan orang orang di atas A’raaf menyeru orang-orang yang mereka kenal dengan tanda-tandanya sambil berkata, “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang kamu sombongkan, tidak ada manfaatnya buat kamu.””

 Sekarang, siapakah Rijalul A’raaf tersebut? Terdapat berbagai macam pendapat dari ahli-ahli tafsir mengenai siapakah Rijalul A’raaf tersebut, antara lain:

  1. Orang-orang yang kebaikannya dan keburukannya seimbang, sehingga tidak di neraka dan tidak di surga
  2. Jin mu’min
  3. Anak-anak kafir yang meninggal sebelum baligh
  4. Anak-anak hasil zina
  5. Manusia yang bangga dalam keburukan
  6. Malaikat
  7. Al fuqaha wal ulama (ahli fiqh dan ulama)
  8. Abbas, Hamzah, Ja’far dan Ali

Mari kita bahas pendapat-pendapat di atas satu persatu.

Pendapat pertama tidak beralasan karena mengatakan bahwa Rijalul A’raaf adalah orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Karena sebagaimana kita bahas di atas A’raaf menunjukkan tempat yang tinggi, tempat yang baik, sehingga pastilah yang berada disana orang-orang yang memiliki kebaikan melebihi penduduk surga.

Pendapat yang kedua yang menyatakan jin mu’min juga tidak dapat diterima, kenapa jin tersebut tidak bisa masuk surga?

Pendapat ketiga yang menyebutkan anak-anak kafir yang meninggal sebelum baligh bertentangan dengan hadits Rasulullah yang berbunyi “Semua yang lahir ke muka bumi ini dalam keadaan suci.” Jika meninggal sebelum baligh maka masih dalam keadaan suci maka tempatnya tentu surga.

Pendapat keempat, anak hasil zina bukan salah dari anak tersebut, jika dia beribadah maka tempatnya tetaplah surga. Perbuatan zina yang dilakukan adalah dosa dari orang tua dia dan tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

Pendapat kelima, secara logika sudah tidak dapat  diterima, karena pendapat tersebut berkesan negatif, tidak cocok dengan konteks ayat.

Pendapat keenam, mari kita tanya kepada diri kita sendiri, apa tugas malaikat berada di tempat yang tinggi tersebut?

Pendapat ketujuh, jika mereka beribadah maka tempat mereka adalah surga

Pendapat kedelapan, juga jika mereka beribadah maka tempat mereka adalah surga, tidak ada alasan untuk menempatkan mereka di tengah-tengah tersebut.

Secara akal, pendapat-pendapat di atas sulit diterima karena bertentangan dengan logika dan konteks ayat. Karenanya kita harus mengkaji lebih jauh istilah yang digunakan dalam ayat tersebut.

  • RIJAL

Sebagaimana disebutkan dalam Al A’raaf ayat 46 bahwa yang berada di atas A’raaf tersebut adalah “Rijal”. Dalam bahasa Arab, rijal biasa digunakan untuk menyebut seorang laki-laki. Pada dasarnya satu orang laki-laki adalah “rojul” tetapi kerap digunakan istilah “rijal” untuk menguatkan kedudukan laki-laki tersebut. Ketika seseorang memiliki suatu kelebihan, seperti keberanian, dermawan, alim, bisa dijuluki rijal sebagai bentuk penghargaan.

Lalu, apakah makna “Rijal” di dalam Al Qur’an?

  1. An Nuur (QS 24): 36-37

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Di rumah-rumah (Arab: buyuutin) yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih nama-Nya pada waktu pagi dan petang orang-orang (Arab: rijaal) yang tidak dilalalikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang.”

 

 

Pada beberapa terjemahan Al Qur’an yang beredar di Indonesia kita dapati bahwa terjemahan “buyuutin” dalam ayat tersebut adalah “masjid-masjid”, sementara bila kita cek kamus bahasa Arab akan kita temukan bahwa buyuutin adalah bentuk jamak dari bait yang berarti rumah-rumah, sementara bahasa Arab dari masjid-masjid adalah masaajid.

Jika kita buka tafsir Durul Mantsur oleh Imam Suyuthi mengenai ayat tersebut dijelaskan bahwa ketika ayat tersebut turun datanglah Abu Bakar ke Rasulullah SAAW dan bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan buyuut dalam ayat tersebut?” Rasulullah menjawab, “Bait Fathimah az Zahra.” Abu Bakar kembali bertanya, “Termasuk rumah Fathimah Ya Rasulullah?” (Seperti yang kita ketahui, rumah Sayyidah Fathimah a.s. dengan rumah Rasulullah SAAW saling berdempetan sehingga disebut buyuut yaitu banyak) Rasulullah menjawab, “Bahkan paling mulianya rumah.”

Kita ingat bahwa setiap kali Rasulullah hendak memasuki rumah Sayyidah Fathimah beliau selalu mengucapkan salam, “Salam atasmu wahai rumah kenabian, rumah di mana diletakkannya risalah Allah, rumah di mana lalu lalangnya malaikat. Apakah kalian mengijinkan Muhammad masuk rumah kalian?” Sayyidah Zahra menjawab dengan menangis, “Abah, rumah ini adalah rumahmu, keluarga ini adalah keluargamu, kenapa meminta izin?” Rasulullah menjawab, “Allah yang memerintahkan aku untuk meminta izin kepada kalian.” Rasulullah selalu mengucapkan salam yang sama setiap hendak mengunjungi rumah Fathimah dan selalu dijawab yang sama oleh Sayyidah Zahra a.s.

Di rumah itulah selalu dikumandangkan zikir terhadap Allah.

Kembali pada pembahasan Rijaalul A’raaf, ayat 37 menyebutkan, “orang-orang (Arab: rijaal) yang tidak dilalalikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang.”

Di ayat ini kita dapati kata rijal, yang bermakna sekelompok manusia yang tidak pernah lalai dari mengingat Allah dan selalu berzikir kepada Allah, sehingga mereka memliki kelebihan dibandingkan yang lain.

  1. At Taubah (QS 9): 108

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Janganlah engkau melaksanakan shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang (Arab: rijaalun) yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.”

Dapat kita simpulkan dari ayat di atas bahwa rijal dalam ayat tersebut adalah orang yang membersihkan diri dan mulia,  mendapat pujian dari Allah SWT dan karenanya memiliki keistimewaan.

  1. Al Ahzaab (QS 33): 23

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلً

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang (Arab: minal mu’miniina rijaalun) yang menepati apa yang telah mereka janjikan (Arab: shodaquu) kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya).”

Berdasarkana yat di atas, kita dapat simpulkan bahwa di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang selalu benar (shodaquu), orang-orang ini disebut Allah SWT dalam ayat Al Qur’an tersebut sebagai “rijal”. Jadi dari orang-orang mukmin, tersaring lagi sekelompok orang yang kita sebut Rijalun Shadaqu.

Apakah pentingnya orang-orang yang memiliki sifat shodaquu tersebut?

At Taubah (QS 9): 119

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang beriman! Bertaqwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (Arab: Shoodiqiin)”

Jadi orang-orang bertakwa diperintahkan Allah untuk “bersama” (bukan “menjadi’) orang-orang shaadiqiin! Ini menunjukkan ketinggian derajat dari orang-orang shadaquu (shadiqiin) tersebut!

  1. Yusuf (QS 12): 108 – 109

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Katakanlah, “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik. Dan Kami tidak mengutus sebelummu, melainkan orang laki-laki (Arab: rijaalan) yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri …”

Ayat ini menggunakan kata “rijal” untuk menggambarkan orang yang diberikan wahyu oleh Allah.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kira-kira mungkinkah rijal yang disebut pada Al A’raaf ayat 46 adalah jin mu’min? Mungkinkah rijal itu anak-anak hasil zina? Mungkinkah rijal tersebut adalah orang yang pahala dan dosanya seimbang?

Jelas bahwa “Rijal” adalah orang-orang yang memiliki kelebihan di mata Allah SWT

Kembali pada Al A’raaf ayat 46, “…orang-orang (Arab: rijaalun) yang mengetahui (Arab: ya’rifuuna) mereka (penduduk neraka dengan penduduk surga) (Arab: kullaa) dengan tanda-tanda mereka (Arab: bisiimaahum).”

Dapat kita pahami berdasarkan ayat tersebut bahwa Rijalul A’raaf mengenali penduduk surga dan neraka dari tanda-tanda yang ada pada mereka. Ini berarti penduduk surga dan neraka memiliki tanda-tanda yang dapat dikenali. Tanda-tanda penghuni surga dan neraka juga disebutkan dalam ayat-ayat sebagai berikut:

  • Ar Rahman (QS 55): 41

يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ

“Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.”

  • Al Fath (QS 48): 29

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud…”

  • Ali Imran (QS 3): 106

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikatakan), “Mengapa kamu kafir setelah beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.”

Dari ayat-ayat di atas jelaslah bahwa penduduk surga dan neraka memiliki ciri-ciri khusus untuk dikenali, yaitu wajah yang hitam dan wajah yang putih. Kembali pada Al A’raaf ayat 46 disebutkan bahwa Rijalul A’raaf mengenali penduduk surga dan neraka dari tanda-tandanya. Sebagaimana disebutkan di atas, penduduk surga dan neraka memiliki ciri khusus untuk kita kenali. Jadi apa yang membedakan kita dengan Rijalul A’raaf?

QS Al A’raaf (7): 46

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada batas (hijaab) dan di atas A’raaf  ada orang-orang (rijaalun) yang mengetahui  mereka (penduduk neraka dengan penduduk surga) dengan tanda-tanda mereka. Mereka (Rijalun yang berada di atas A’raaf) berseru kepada penghuni surga “Salaamun alaikum”. Mereka (penghuni surga) belum memasukinya, tetapi mereka ingin segera memasukinya (surga).

Yang membedakan kita dengan Rijaalul A’raaf adalah :

1. Ayat di atas menyebutkan bahwa Rijalul A’raaf memanggil penduduk surga, artinya mereka dapat berkomunikasi dengan penduduk surga dan neraka, sementara kita hanya bisa mengenal saja tanpa bisa berdialog mereka.

2. QS Al A’raaf : 48 juga menyebutkan bahwa Rijalul A’raaf mengetahui apa yang dilakukan manusia di dunia, hal ini membedakan mereka dengan manusia biasa

3. Rijalul A’raaf menyuruh penduduk surga untuk masuk ke dalam surga kemudian Rijalul A’raaf berbicara kepada penduduk neraka, untuk melihat orang-orang yang dulu mereka katakan sesat.

Berdasarkan ayat di atas, muncul pertanyaan “Kenapa bukan Allah lah yang menyuruh penduduk surga untuk masuk ke dalam surga?” Dalam menjawab pertanyaan ini marilah kita lihat awal ayat dalam surat Fathihah, yaitu “Segala Puji Bagi Allah (Rabb) yang mengatur alam semesta”. Tetapi dalam ayat lain Allah menyebutkan “Demi Malaikat-Malaikat yang mengatur alam semesta”. Jadi siapakah yang sebenarnya mengatur alam semesta? Allah ataukah malaikat? Makna dari kedua ayat tersebut adalah sifat mengatur adalah mutlak milik Allah, tetapi diberikan kepada selain Allah. Contoh lainnya, terdapat ayat yang menyebutkan Allah mewafatkan jiwa manusia ketika mati, sementara ayat lain menyatakan bahwa yang mematikan manusia adalah malaikat maut. Jadi sifat mematikan yang mutlak milik Allah tersebut diberikan kepada malaikat maut.

Demikian pula halnya dengan pembahasan Rijaalul A’raaf di atas. Allah-lah yang menentukan siapa yang di surga siapa di neraka, tetapi sifat menentukan tersebut diberikan kepada Rijalul A’raaf!

Apakah mungkin manusia lain selain Rasulullah dapat mengetahui perbuatan manusia di dunia?

At Taubat (9): 105

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah,”Beramallah kamu, maka Allah akan melihat amalmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mu’min, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan“

Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah selalu mengetahui amal perbuatan manusia, yang baik maupun yang buruk, tetapi bukah hanya itu, terdapat pula orang-orang yang mengetahui amal perbuatan tersebut yaitu Rasulullah dan orang-orang yang beriman.

Apakah kita orang beriman yang dimaksud dalam ayat tersebut? Ataukah para ulama? Bila kita mengatakan demikian, berarti seharusnya kita atau para ulama bisa mengetahui perbuatan lahir maupun batin manusia. Bila kita pikirkan secara logika, apakah kita mampu menjadi saksi amal perbuatan satu orang saja teman kita? Apalagi menjadi saksi bagi umat manusia?!

Sebelum kita bahas lebih lanjut,  kita harus membahas jenis-jenis kesaksian. Kesaksian terbagi menjadi dua kelompok:

–        syahadah jawahiriyah, yaitu kesaksian atas hal-hal yang terlihat.

–        syahadah jawanihiyah, yaitu kesaksian atas isi hati seseorang.

Mampukah kita menjalankan kedua kesaksian tersebut?  Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa orang-orang beriman sebagaimana dibahas dalam ayat di atas tidak berlaku secara umum. Lalu siapakah orang-orang beriman yang akan menjadi saksi bagi manusia tersebut?

Fakhrurrozi berkata tentang Rijalul A’raaf dalam kitabnya berjudul Al Kabir:

“Mereka adalah orang-orang yang mengenal manusia waktu di dunia. Mereka mengenal siapa siapa yang berbuat baik, dan siapa siapa yang berbuat buruk. Dan mereka mengenal hati manusia. Mereka itulah yang akan diberikan kedudukan oleh Allah di atas A’raaf di hari kiamat nanti. Mereka berdiri di atas A’raaf dan melihat siapa yang di surga dan siapa yang di neraka. Mereka akan berkata kepada penduduk surga, “Masuklah kalian ke dalam surga.” Dan mereka berkata kepada neraka, “Ambillah mereka!” ”

Pernyataan Fakhrurrozi di atas sesuai dengan QS Fajr (89): 22 – 23 sebagai berikut :

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ

“Dan datanglah utusan Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu didatangkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu.“

Berdasarkan ayat di atas dapat kita pahami bahwa neraka Jahannam tidak menunggu, melainkan mendatangi penduduk neraka. Akan tetapi, sebelum itu neraka jahannam menunggu perintah dari Rijalul A’raaf sebagai pihak yang menentukan keakhiran surga atau neraka bagi manusia.

Jadi siapakah Rijaalul A’raaf yang dapat membagi surga dan neraka tersebut?

Dalam kitab Manaqib Ali bin Abi Thalib oleh Ibnul Maghazili Asy Syafi’i:

Rasulullah SAW bersabda,” Ada tiga keistimewaan yang diberikan kepadaku yang Ali diikut sertakan di dalamnya, tetapi Ali memiliki tiga keistimewaan yang aku tidak diikutsertakan di dalamnya. Pertama, pada hari kiamat nanti setiap nabi memiliki panji tapi Ali-lah yang akan membawanya. Kedua, tidak ada satu nabipun yang memiliki haudh kecuali aku dan nanti Ali-lah yang akan menuangkan airnya. Ketiga, aku sebagai Sayyidul A’raaf (pemimpin orang-orang di A’raaf) dan akulah yang akan membagi neraka dan surga, dan hak itu aku berikan kepada Ali bin Abi Thalib. Tapi Ali memiliki tiga keistimewaan yang aku tidak diikutsertakan di dalamnya. Ali memiliki mertua dan aku tidak memiliki mertua seperti Ali. Ali memiliki istri dan aku tidak memiliki istri seperti Ali. Ali memiliki putra dan aku tidak memiliki putra seperti Ali.”

Dari hadits di atas jelaslah bahwa hak membagi surga dan neraka yang mutlak milik Allah, diberikan kepada Rasulullah dan kemudian diberikan Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib as. Timbul pertanyaan di benak kita, untuk apa hak tersebut dibagi-bagikan?

Rasulullah bersabda,”Ya Ali, ada tiga yang aku bersumpah bahwa itu adalah haq. Pertama, sesungguhnya engkau dan washi-washi setelah engkau adalah pemimpin-pemimpin, tidak ada yang mengenal Allah kecuali dengan jalan mengenal kalian. Kedua, dan tidak ada yang masuk surga kecuali yang kenal kalian dan kalian mengenalnya. Ketiga, tidak ada yang masuk neraka kecuali yang ingkar pada kalian dan kalian mengingkarinya.”

Berikut ini kita bahas satu persatu isi hadis di atas :

(1) “…tidak ada yang mengenal Allah kecuali dengan jalan mengenal kalian”

Dalam membahas pernyataan di atas, mari kita lihat surat berikut ini :

Al Qiyamah (75): 22-23

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah mereka pada hari itu berseri-seri melihat pada Tuhannya …”

Ayat ini mengisyaratkan bahwa kita akan melihat Allah dengan kasat mata. Apakah dapat kita terima dengan akal kita bahwa kita dapat melihat Allah? Harap diingat, jika Allah bisa dilihat maka Allah menempati tempat, kalau Allah menempati tempat maka Allah itu lebih kecil daripada tempat. Tentunya hal ini bertentangan dengan kalimat Allahu Akbar?! Hal ini berarti penafsiran kita mengenai Allah salah! Oleh karena itu kita tidak dapat menafsirkan atau mengenal Allah sendiri. Rasulullah sudah memberikan petunjuk dengan menyatakan bahwa mengenal Allah haruslah melalui Rijalul A’raaf (para Imam). Para Imam lah yang menjelaskan bagaimana Allah, siapa Allah, apa nama-nama Allah, apa sifat-sifat Allah, dijelaskan secara detail. Sehingga keyakinan dan keimanan kita terus bertambah kepada Allah.

(2) “..tidak ada yang masuk surga kecuali yang kenal kalian dan kalian mengenalnya”

Secara umum, umat Islam mengenal pernyataan bahwa “Allah memiliki 99 nama, siapa yang menghafalnya akan masuk surga”. Apakah mungkin dengan menghafal 99 nama akan masuk surga? Rasulullah mengatakan, ”Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang berakhlak dengan nama itu akan masuk surga.” Jadi bukan menghafal, melainkan berakhlak dengan nama-nama tersebut.

Kembali pada pembahasan hadis di atas, apakah yang dimaksud dengan mengenal para imam adalah dengan menghafal nama-nama mereka? Hadits ini juga menyebutkan bahwa banyak orang di dunia yang mengenal para Imam tetapi di hari kiamat mereka tidak dikenal para ma’shumin. Jadi mengenal bukan hanya menghafal dan mengetahui, tetapi belajar, menghidupkan ajaran-ajaran para Imam dan mengamalkan ajaran-ajaran para Imam.

(3) “…tidak ada yang masuk neraka kecuali yang ingkar pada kalian dan kalianpun mengingkarinya”.

Imam Ali Zainal Abidin as bersabda, “Barangsiapa datang kepada kami, maka selamat datang kedatangannya, dia akan mendapatkan cinta yang tulus dari kami. Dan barangsiapa yang memutuskan hubungan dengan kami, sebelum mereka memutuskan hubungan kami telah memutuskannya duluan, karena kami tidak butuh mereka.”

Imam Muhammad Baqir as berkata kepada muridnya, “Wahai Muslim semua ilmu yang berbau agama yang tidak keluar dari rumah ini (rumah kenabian) adalah bathil.”

Imam Mahdi as bersabda, “Barangsiapa yang mengambil ilmu selain dari kami sama dengan orang-orang yang mengingkari kepemimpinan kami.”

QS2:189

وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“… Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Amirul Mu’minin as berkata, “Demi Allah, kamilah rumah-rumah yang dimaksud dalam ayat ini.” Bukan rumah bangunan yang dimaksud, cukuplah kita baca buku akhlaq kalau masuk ke rumah orang dari depan rumah. Ya pastilah. Masa Allah bicara itu dalam Al Qur’an? Mana kehebatan dan keagungan Al Qu’ran kalau Cuma bicara rumah. Ingatlah hadits Rasulullah, “Ana Madinatul Ilmi, wa Aliyyun babuha.” (Aku rumah ilmu, dan Ali adalah pintunya). Jadi barangsiapa yang mengambil ilmu bukan dari para Imam maka telah masuk rumah dari belakang (pencuri).

Berdasarkan pembahasan Rijaalul Araaf ini jelaslah bagi kita bahwa Rijaalul Araaf adalah orang-orang yang akan membagi surga dan neraka. Hadits Rasulullah SAAW di atas sudah sangat jelas memberikan petunjuk bagi kita bahwa pengenalan kita secara hakiki akan Rijaalul A’raaf (Al Maksumin) adalah kunci bagi kita untuk mencapai surga kelak.


Categories