Posted by: syiar.net | April 17, 2010

Wajibnya Menghormati Rasul SAAW

Setiap muslim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menghormati, mengagungkan, mencintai dan memuliakan Rasulullah SAAW.

Hal-hal tersebut terdapat di dalam Al Qur’an, antara lain

1. Al Araf (QS 7:157)

فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“… Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan bersamanya (Al Qur’an), mereka itulan orang-orang yang beruntung.”

Kata-kata  dalam ayat ini bermakna memuliakannya (Rasul SAAW), maka salah satu cara untuk memuliakan Rasul SAAW adalah mengadakan peringatan Maulid.

2. Ibrahim (QS14:5)

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّ

“… dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah …”

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi Musa as untuk mengingatkan kaumnya dengan “hari-hari Allah”. Yang dimaksud dengan “hari-hari Allah” bukan berkenaan dengan zaman/masa, tetapi yang dimaksud adalah mengingat peristiwa yang besar dimasa lalu, karena kata”hari-hari” menerangkan keadaan dari kejadian-kejadian tersebut, baik itu hari kenikmatan atau hari bencana.

Jika seseorang mengenang nikmat-nikmat Allah yang diberikan padanya, maka orang tersebut mengamalkan perintah Allah di dalam ayat ini. Apakah ada nikmat Allah yang lebih besar dari pribadi agung Rasulullah SAAW? Apakah dikatakan bid’ah orang yang mengingat nikmat yang terbesar tersebut? Merayakan Maulid Rasulullah adalah salah satu cara mengenang nikmat Allah yang terbesar.

Makna “hari-hari Allah” bisa dipahami dengan merujuk kepada :

– Tafsir Al Kasyaf Juz 3 hal. 519

– Tafsir Durul Mantsur Juz 5 hal. 6

– Tafsir Kabir Juz 10 hal. 90

– Jamiul Kabir Li Ahkamil Qur’an Juz 5 hal. 240

3. Maryam (QS19:15)

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan kembali”

Hari kelahiran di dalam kehidupan para Nabi as termasuk hari yang penting dan diberkahi. Allah SWT telah memberikan salam kepada Nabi Yahya as di hari kelahirannya. Kita semua berkeyakinan bahwa Rasulullah SAAW paling mulia di antara para Nabi dan Rasul, maka wajib hari kelahirannya lebih mulia dari hari-hari kelahiran para Nabi dan Rasul yang lain.

Apakah dikatakan bid’ah jika merayakan Maulid seorang manusia yang lebih mulia dari Nabi Yahya as?

Allah SWT berfirman dalam Al Ahzab (QS33:6)

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mu’min dari diri mereka sendiri …”

Jika seorang mu’min mengutaman dirinya atau orang lain dan tidak mengutamakan Rasulullah SAAW di atas mereka, maka orang tersebut tidak dapat dikelompokkan sebagai orang yang beriman, sebagaimana dapat kita lihat pada ayat di atas dan juga diperkuat dengan hadis dari Sahih Muslim Jilid 3 halaman 183 berikut:

“Tidak beriman seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintai (diutamakan) dari dirinya sendiri, hartanya, dan keluarganya serta seluruh manusia”

Hadis diatas juga terdapat pada:

– Sunan Nasa’i Juz 7 hal. 119

– Sahih Bukhari Juz 1 hal. 12

Merayakan Maulid Rasul SAAW adalah salah satu cara mengutamakan dan memuliakan seorang manusia yang telah diberi keutamaan oleh Allah SWT di atas semua makhluk-Nya, apakah hal ini dapat dikatakan bid’ah?

Sesuatu dapat dikatakan bid’ah apabila tidak memiliki dalil atau nash dalam Al Qur’an dan hadis. Jika hal tersebut memiliki dalil atau nash di dalam Al Qur’an dan hadis maka hal tersebut bukanlah bid’ah bahkan ia adalah sunnah.

Ayat-ayat Al Qur’an dan hadis-hadis di atas adalah merupakan dalil atas wajibnya memuliakan Rasulullah SAAW serta mengutamakan Rasulullah SAAW di atas diri kita sendiri, harta, keluarga, serta semua manusia yang merupakan tanda keimanan seseorang. Dengan kata lain merayakan Maulid Nabi SAAW adalah salah satu tanda bagi seseorang untuk dapat digolongkan sebagai seorang mu’min.

Adapun sekelompok orang mengatakan bahwa dalil atau nash di atas tidak menunjukkan hal tersebut, bahkan Maulid dikatakan sebagai bid’ah dengan berdalih sebagai berikut:

– Adakah perintah merayakan maulid di dalam Al Qur’an?

– Adakah Nabi SAAW dan atau para sahabat pernah melakukan hal tersebut?

Kedua pertanyaan di atas timbul dikarenakan kekeliruan dalam memahami dalil atau nash dan juga kekeliruan dalam memahami sunnah.

Dalam memahami dalil atau nash tidaklah selalu harus kaku kata demi kata. Tetapi kita mesti memahami nash atau dalil sebagai “ashlun” (asli/akar) dari suatu amal perbuatan yang berhubungan dengan keagamaan.

Kita ketahui bahwa syariat mewajibkan kita untuk mendidik dan mengajarkan anak-anak kita, namun cara mendidiknya diserahkan kepada kita dan sesuai dengan zaman kita masing-masing. Seperti contoh, diwajibkan bagi kita untuk mendidik anak-anak kita berkenaan dengan Al Qur’an, namun mengenai carai mendidiknya adalah sesuai dengan zaman kita. Dibolehkan bagi kita untuk menggunakan komputer, CD, VCD, sebagai media/alat dalam mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak kita, yang dizaman Nabi dan para sahabat tentunya belum ada.

Mendidik anak adalah “ashlun” yang merupakan dalil atau nash, sedangkan cara-cara mendidiknya disesuaikan dengan zaman, dan hal ini bukanlah bid’ah.

Al Anfal (QS8:60)

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

Mempersiapkan kekuatan untuk membela dan menjaga agama Allah, untuk menggentarkan musuh yang diketahui maupun yang tidak diketahui merupakan “ashlun” yang ada di dalam Al Qur’an, dan ini merupakan dalil atau nash yang jelas tentang wajibnya hal tersebut, namun cara-caranya sesuai dengan zaman masing-masing. Di zaman Rasulullah SAAW penggunaan tombak, panah, baju perang, perisai sebagai persenjataan sementara kuda-kuda sebagai kendaraan, sementara di zaman ini penggunaan senapan, pistol, rudal sebagai persenjataan dan tank serta pesawat sebagai kendaraan. Jika di zaman ini ummat Muslim mempersiapkan panah dan tombak sebagai senjata maka musuh Islam tidak akan dapat dikalahkan.

Jadi secara tegas bahwa alasan sekelompok orang di atas adalah keliru:

– ada nash di dalam Al Qur’an yaitu QS7:157

– Nabi SAAW dan para sahabat tidak menggunakan pistol, pesawat pada zamannya.

Juga hadis Nabi SAAW berikut:

“Barang siapa yang mengadakan sunnah yang baik maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala siapapun yang mengerjakannya (sunnah tersebut)”

– Sunan Al Kubro Juz 6 halaman 121

– Syarah Nawawi Juz 4 halaman 88

– Kanzul Ummal Juz 15 halaman 330

Apakah kita diperintahkan untuk mengadakan sunnah yang kita buat sendiri atau sunah yang memiliki “ashlun” dalam Al Qur’an dan hadis? Tentunya sunnah yang memiliki akar dalam Al Qur’an dan hadis, seperti berdakwah melalui televisi dan internet yang tentunya tidak kita jumpai riwayat yang menceritakan bahwa Rasulullah SAAW dan para sahabat tampil di televisi dan berdakwah melalui internet.

Dengan demikian Maulid Nabi SAAW bukanlah sebagai bid’ah melainkan sunnah hasanah.

Pada zaman Nabi SAAW, para sahabat memiliki cara sendiri dalam memuliakan Nabi, seperti

– menyimpan rambut Nabi SAAW untuk mengambil keberkahan (Sahih Bukhari Juz 3 halaman 95)

– meminum air sisa wudhu Nabi SAAW (Fathul Bari Juz 1 hal. 395)

Cara memuliakan seperti yang dilakukan para sahabat tersebut dapat dikatakan mustahil untuk kita lakukan dikarenakan ketiadaan sosok (basyar) Rasulullah SAAW di zaman kita, sehingga dengan mengadakan perayaan Maulid sebagai salah satu cara kita di zaman ini untuk memuliakan beliau SAAW.

Adapun orang yang mengadakan Maulid dengan cara membaca Maulid barjanji, Maulid Habsyi, Maulid Diba’ atau melantunkan jenis-jenis shalawat adalah merupakan cara-cara dalam tujuan yang sangat jelas untuk memuliakan Rasulullah SAAW dan merupakan ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAAW.

Sesuatu yang baru, yang tidak terdapat pada zaman Rasulullah SAAW, yang berhubungan dengan keagamaan tidaklah selalu dikatakan sebagai bid’ah. Jika sesuatu tersebut memiliki “ashlun” maka sesuatu tersebut adalah sunnah hasanah.

Allah SWT berfirman dalam Al Maidah (QS5:114)

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Isa putera Maryam berdo’a: “Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezki Yang Paling Utama”.”

Peristiwa diturunkannya hidangan dari langit menjadi hari raya bagi umat Nabi Isa as yang bersamanya dan juga umat Nabi Isa as yang datang sesudah mereka.

Jika hal yang berkenaan dengan peristiwa diturunkannya makanan dari langit dijadikan sebagai hari raya (yang selalu diperingati), lalu bagaimanakah halnya dengan peristiwa kelahiran pemimpin para nabi dan rasul yang suci, yang tidak Allah utus beliau SAAW kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS21:107)?

Peringatan maulid Nabi SAAW merupakan bentuk dari ekspresi kecintaan kita kepada Nabi SAAW dan juga sebagai salah satu bukti bahwa kita memuliakan beliau SAAW, dan juga washilah dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Maidah (QS5:35)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”


Categories