Arkanul Imam (Rukun-Rukun Imam)
"Imam" berarti seorang pemimpin, seorang yang menjadi contoh dan pemberi petunjuk bagi orang-orang yang mengikutinya. Allah Rabbul Alamin telah menjadikan seorang "imam" bagi setiap umat di setiap zaman.
يَوۡمَ نَدۡعُواْ كُلَّ أُنَاسِۭ بِإِمَٰمِهِمۡۖ فَمَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَأُوْلَـٰٓئِكَ يَقۡرَءُونَ كِتَٰبَهُمۡ وَلَا يُظۡلَمُونَ فَتِيلٗا
"(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan imamnya; dan barang siapa diberikan catatan amalnya di tangan kanannya mereka akan membaca catatannya (dengan baik), dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun." (QS17 (Al Isra):71)
Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa imam terbesar bagi umat manusia adalah Nabi besar Muhammad SAAW, sang pembawa cahaya dan penyempurna ajaran Allah. Akan tetapi bagaimana dengan imam-imam setelah Nabi Muhammad (saaw) ? Sebagian besar muslimin berpendapat bahwa Imam bisa diangkat berdasarkan musyawarah. Jadi setelah Rasul meninggal siapapun yang akan naik, asal didasarkan pada musyawarah, adalah Imam yang sah. Tapi, mengingat peranan imam yang sangat besar bagi umat manusia, timbul pertanyaan, apakah musyawarah adalah landasan yang tepat untuk menentukan seorang "imam"? Apakah pendapat sekumpulan manusia (yang bahkan tidak diuji pengetahuan agama dan akhlaknya) sudah cukup untuk menentukan seorang "imam"?
Allah di dalam kitab yang mulia, Al Qur'an, telah memberikan petunjuk kepada manusia mengenai keberadaan dan pentingnya seorang "imam". Tentunya hal ini diikuti dengan petunjuk dan penjelasan mengenai siapakah yang pantas menjadi seorang imam, karenanya marilah kita buka lembaran-lembaran kalimat Allah untuk memperoleh jawaban mengenai syarat-syarat seorang "imam".
فَبِأَيِّ حَدِيثِۭ بَعۡدَهُۥ يُؤۡمِنُونَ
"Maka kepada ajaran manakah selain Al Qur'an ini mereka akan beriman?" (QS 77 (Al Mursalat):50)
1. Imam adalah Fi'lullah bukan Fi'lun nas (Imam adalah ketentuan Allah, bukan ketentuan manusia)
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
Dalam penciptaan Adam a.s, Allah swt berdialog dengan malaikat. Kata kerja yang digunakan dalam ayat ini adalah "menjadikan" ( ja'ilun ) seorang khalifah di muka bumi". Penggunaan kata ja'ilun menunjukkan kehendak Allah tanpa campur tangan pihak lain. Jadi khalifah adalah ketentuan Allah SWT.
۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّـٰلِمِينَ
Berdasarkan ayat di atas, terlihat bahwa Allah SWT menunjuk nabi Ibrahim menjadi imam bagi seluruh manusia !
"...Ibrahim berkata,"Dan saya mohon juga dari keturunanku." Allah berfirman,"Janjiku ini tidak mengenai orang-orang yang dzalim."" ( QS 2 (Al Baqarah):124)
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ
Dengan demikian siapa-siapa yang pernah menyekutukan Allah (syirik) pernah melakukan kedzaliman yang paling besar.
Sekarang kita kembali kepada sejarah dengan jujur, adakah satu sahabat di zaman Rasul SAAW yang tidak pernah menyembah patung selain Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib? Sementara Allah berjanji bahwa tidak akan ada keturunan Ibrahim a.s. yang dzalim berhak menyandang gelar Imam. Artinya tidak akan ada orang yang pernah mengalami kedzaliman dapat menjadi seorang imam!
Sesuai dengan janji Allah SWT tersebut, maka pilihan mengenai siapa yang akan diangkat menjadi imam berada di tangan Allah, seperti yang tercantum dalam ayat berikut:
وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ
Jadi bagi manusia tidak ada pilihan selain yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Bagaimana dengan orang-orang yang tetap mencari pilihan lain ? Merekalah orang-orang yang tersesat!
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا
Jadi, apabila Allah dalam kitab-Nya mengatakan bahwa imam adalah hak prerogatif Allah, Tuhan semesta alam, maka campur tangan manusia harus kita tolak dalam penentuan "imam". Jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan Imam bagi umat manusia tidaklah ada hak bagi manusia untuk memilih pemimpin bagi dirinya sendiri di luar ketetapan Allah dan Rasul-Nya.
Definisi dzalim di sini dijabarkan pada QS31 (Luqman):13 "Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang paling besar.""
2. Imam wajib ma'shum
وَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ وَكَانُواْ لَنَا عَٰبِدِينَ
Jadi, salah satu tugas imam adalah "memberi petunjuk". Hal ini menunjukkan bahwa imam pastilah telah diberi petunjuk oleh Allah agar tidak mungkin mereka melakukan kesalahan dalam membimbing umat manusia.
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَنَجۡعَلَهُمۡ أَئِمَّةٗ وَنَجۡعَلَهُمُ ٱلۡوَٰرِثِينَ
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa para pemimpin (imam) dijadikan Allah SWT sebagai pewaris dari bumi. Karenanya, imam wajib ma'shum, kalau bila tidak, dapat menghancurkan seluruh isi bumi.
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡـٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا
Pada ayat di atas, ketaatan kepada pemimpin disejajarkan dengan ketaatan pada Allah dan Rasul, kalimat taat di sini berarti mutlak, sehingga tidak mungkin orang yang ditaati tersebut tidak ma'shum. Apabila kita merujuk pada hadits Tsaqalain (1) (dua yang berat), Rasul saaw mengatakan beliau meninggalkan dua pusaka yaitu "kitabullah" dan "itrati ahlul bayt". Itrah di sini dimaksud keturunan Rasul hingga hari kiamat dan dimasukkan oleh Rasul dalam ahlul bayt beliau. Rasul berkata keduanya tidak akan pernah (2) berpisah selama-lamanya, ini menunjukkan itrah ahlul bayt dan Al Qur'an akan terus bersama, maka sebagaimana kesucian Al Qur'an terjaga, kemakshuman itrah Rasulullah pun telah dijaga oleh Allah SWT.
لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦۖ تَنزِيلٞ مِّنۡ حَكِيمٍ حَمِيدٖ
Berdasarkan ayat di atas, dapat kita simpulkan bahwa jika ada yang berpendapat bahwa imam itu tidak ma'shum berarti imam telah terpisahkan dari Qur'an, karena tidak mungkin ada kebatilan terhadap Qur'an.
3. Imam wajib berilmu (wajibul 'alim)
Ilmu para imam bukan didapatkan dari guru-guru, bukan dari kitab-kitab, melainkan warisan dari Rasulullah SAAW. Semua perkataan para imam berasal dari perkataan Rasulullah SAAW.
عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا
إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا
وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدًا عَلَيۡهِم مِّنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِۚ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ
وَمَا مِنۡ غَآئِبَةٖ فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍ
QS27 (An Naml):75 "Dan tidak ada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan tercatat dalam kitab yang nyata."
Berdasarkan ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada yang terdapat di langit dan bumi selain telah dijelaskan dalam Al Qur'an, sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. Pertanyaannya adalah siapakah yang menjelaskan kitabulAl Qur'an? Tentunya Rasulullah SAAW.
Tapi siapakah yang menjelaskan setelah Rasulullah SAAW meninggal?
ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ
Al Qur'an ini, yang kata Allah menjelaskan segala sesuatu, ternyata diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih. Sehingga hamba-hamba tersebut wajib ma'shum.
Imam Ar-Ridho a.s berkata kepada Ibnu Haddaf,"Wahai Ibnu Haddaf jika aku beritahukan kepadamu hari ini bahwa kamu akan mati hari ini, jam sekian, di tempat ini dalam keadaan seperti ini apakah kamu percaya?" Ibnu Haddaf berkata,"Saya tidak percaya." Dan kemudian Ibnu Haddaf membawakan ayat 26 di atas tetapi tidak melanjutkan pada ayat 27nya. Imam kemudian melanjutkan kepada ayat 27 dan bertanya kepada Ibnu Haddaf, "Sekarang saya bertanya kepadamu Ibnu Haddaf, Rasulullah mengetahui hal yang ghaib tidak?" Ibnu Haddaf menjawab,"Jelas." Kemudian Imam a.s. berkata,"Kami adalah pewaris dari Rasulullah SAAW."
Seorang murid Imam Ja'far a.s bertanya kepada Imam,"Ya Imam ada sekelompok orang berkeyakinan bahwa engkau mengetahui hal-hal yang ghaib." Imam a.s. menjawab,"Demi Allah tidak ada sehelai rambutku yang tidak mengetahui hal ghaib. Demi Allah aku mengetahui apa yang ada di langit, aku mengetahui siapa yang akan masuk ke dalam surga siapa yang akan masuk ke dalam neraka, aku mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi hingga hari kiamat. Akan tetapi ilmu semua itu kudapatkan dari Rasulullah SAAW"
Kembali kepada hadits Tsaqalain, dikatakan tidak akan berpisah selama-lamanya antara Kitabullah dan Itrah Ahlul Bayt karena mereka keduanya adalah satu tali yang satu ujungnya di tangan Allah dan ujung lainnya di tangan manusia. Ujung yang di tangan Allah adalah Al Qur'an dan ujung yang di tangan manusia adalah Ahlul Bayt a.s. Jadi kalau Itrah Ahlul Bayt tidak alim berarti mereka berpisah dengan Al Qur'an.
Bagaimana dengan pernyataan bahwa Rasulullah dan para imam adalah orang biasa?
Imam Shadiq a.s. berkata,"Kalau posisi kami para Imam sama dengan kalian, maka apa bedanya antara kami dan kalian."
Imam Baqir a.s ketika ditanya mengenai dalil di luar Qur'an yang menyatakan bahwa para Imam paling mulia di antara manusia menjawab,"Mereka selalu bertanya kepada kami, sementara kami tidak pernah bertanya kepada mereka. Mereka selalu membutuhkan kami, sementara kami tidak membutuhkan mereka."
Salah seorang habib besar berkata sebelum beliau meninggal,"Kebutuhannya mereka (para sahabat dan seluruh manusia) kepadanya (Amirul Mu'minin) dan ketidakbutuhan dia kepada semuanya adalah dalil bahwa dia adalah Imam bagi semuanya."
Bagaimanakah ilmu-ilmu tersebut diwariskan dari Rasulullah SAAW?
Diwariskan secara bathin bukan dari pendengaran biasa dengan kehendak Allah SWT tentunya.
4. Imam wajib berkesinambungan
۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّـٰلِمِينَ
Berdasarkan ayat di atas, terlihat bahwa Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah agar zuriat (keturunan) beliau juga diangkat menjadi Imam. Kata-kata zuriat berarti keturunan hingga hari kiamat. Bagaimana dengan kondisi sekarang? Apabila dikatakan saat ini umat Islam tidak memiliki imam, berarti doa Nabi Ibrahim a.s. tidak terwujud, berarti juga janji Allah meleset!
(1) Hadits ini termasuk dalam hadits Mutawatir
(2) Kata "tidak pernah" berpisah menggunakan kata Lan yang berarti tidak akan pernah (selama-lamanya)